Presiden Soeharto Bertandang ke Berbagai Ulama di Jombang

Oleh Mahpudi

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Presiden Soeharto seri ke-32 yang kami turunkan ini, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Pak Harto saat bersilaturahmi ke Pesantren Tebuireng, Jombang dalam rangkaian Incognito pada 25 Juli 1970. -Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

Kesungguhan Presiden Soeharto menjalin komunikasi dengan para alim ulama, terus dilakukannya selama perjalanan incognito. Baginya, hubungan baik dengan para ulama sangat berarti, utamanya dalam meraih dukungan akar rumput dalam rangka menjalankan amanat sebagai mandataris MPRS saat itu. Sehingga, usai mengunjungi PN Barata di Surabaya, Pak Harto memutuskan untuk bersilaturahim ke beberapa pesantren di Jombang.

Dalam perjalanan menuju sejumlah pesantren di Jombang, Presiden Soeharto sempat singgah di desa Sentul, kecamatan Tembalang, Jombang, guna menyaksikan proyek Bimas setempat. Pak Harto juga berkesempatan melihat sebuah pameran hasil bumi dan kerajinan yang digelar penduduk, sebelum akhirnya sampai ke Jombang.

Pesantren pertama yang dikunjungi Pak Harto adalah Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Tambakrejo-Jombang. Ini adalah Pesantren yang didirikan tahun 1825 oleh Kyai Haji Abdus Salam atau biasa dikenal sebagai Mbah Soichah, seorang pengikut Pangeran Diponegoro. Pesantren ini dianggap sebagai salah satu pesantren tua di Jombang. Dari pesantren inilah tampil KH Abdul Wahib Wahab yang menjadi Menteri Agama pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno (1958). KH Abdul Wahib Wahab merupakan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Di pesantren ini pula, dulu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) pernah menimba ilmu.

Pesantren Darul Ulum di Rejoso merupakan pesantren kedua yang dikunjungi oleh Presiden Soeharto. Para ulama dan santri pesantren yang dibangun oleh Kyai Haji Tamim Irsyad sekitar tahun 1898, menyambut kedatangan Pak Harto dengan antusias. Saat itu, selain berbincang-bincang dengan para kyai dan ulama, Pak Harto juga didaulat untuk berbicara di hadapan para santri yang memenuhi halaman masjid.

Pak Harto tengah berpidato di hadapan ulama dan santri dalam kunjungannya ke Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang, pada 25 Juli 1970. -Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

Berikutnya, Presiden Soeharto mengunjungi Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang. Sebuah pesantren yang didirikan pada 1917 oleh KH Bisri Syamsuri (kakek dari KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur).

Tebu Ireng adalah pesantren keempat yang dikunjungi Pak Harto di Jombang. Pesantren yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari tahun 1899, merupakan pesantren yang sangat terkemuka, utamanya dalam percaturan politik di Indonesia. Sejumlah tokoh penting dalam dunia politik Indonesia dilahirkan dari pesantren ini. Antara lain KH Wahid Hasyim, KH Yusuf Hasyim, KH Abdurahman Wahid, dan KH Solahudin Wahid. Presiden Soeharto singgah di Tebuireng dalam rangkaian perjalanan incognito-nya. Saat itu, Pak Harto berkeliling menyaksikan kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung di pesantren itu.

Napak Tilas Incognito Presiden Soeharto di Jombang

Pak Harto tengah berpidato di hadapan ulama dan santri dalam kunjungannya ke Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang, pada 25 Juli 1970. -Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

Kami, tim ekspedisi Napak Tilas Incognito Pak Harto 2012, tiba di Jombang pada 9 Juni 2012. Pada kesempatan pertama, kami mengunjungi Pesantren Tebuireng. Tampaknya, sedang ada kesibukan hari itu. Tim disambut hangat oleh K.H. Abdul Gofur. Saat itu, mereka tengah menyiapkan acara seremonial peresmian gedung Gus Dur, pada keesokan harinya. Dalam kesempatan itu, tim didampingi oleh K.H. Nasir Karim, berkesempatan melihat sejumlah lokasi yang diyakini pernah disinggahi Pak Harto saat berada di Tebuireng. Salah satunya, sebuah rumah tinggal yang tak jauh dari kawasan utama Pesantren.

Pesantren berikutnya yang kami kunjungi adalah Pesantren Darul Ulum di Rejoso. Hari sudah menjelang maghrib. Namun, kami bersyukur, pemimpin pondok pesantren K.H. Cholil Dahlan berkenan menerima. Kyai Cholil mengingat, bahwa saat itu, Pak Harto sebenarnya tak direncanakan untuk berbicara di depan publik. Namun, atas inisiatif pimpinan pondok yang mengumpulkan para santri di halaman masjid, Pak Harto diminta untuk berbicara di depan mereka.

Tim Ekspedisi tengah berdiskusi dengan K.H Abdul Gofur dan K.H.Nasir Karim (9 Juni 2012) memeriksa foto dokumentasi saat Pak Harto melakukan kunjungan incognito ke Pesantren Tebuireng
pada 25 Juli 1970.

Saat itu, dalam ingatan Kyai Cholil, Presiden Soeharto mengajak umat Islam, khususnya para ulama dan santri di pondok pesantren, agar bersama-sama membangun negara dan bangsa Indonesia. “Pak Harto menyampaikan bahwa dirinya sebagai pengemban amanat mandataris MPRS saat itu, memohon dukungan seluruh umat Islam agar dapat menjalankan amanat tersebut dengan sebaik-baiknya,” demikian kenang Kyai Cholil.

Rangkaian kunjungan ke sejumlah Pesantren ini, sekaligus membuktikan, bahwa sejak awal pemerintahannya, Presiden Soeharto telah dekat dengan ulama dan santri.**

Lihat juga...