Petani Sayur di Lamsel Lakukan Pembenihan Mandiri

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ketersediaan benih komoditas pertanian menjadi kendala bagi sejumlah petani di wilayah Lampung Selatan, seiring meningkatnya jumlah permintaan di musim kemarau ini.
Wawan Setiawan, petani sayuran di Dusun Sidorejo, Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, mengatakan, saat musim kemarau, harga benih sayuran mengalami kenaikan akibat banyaknya permintaan.
Menurutnya, benih sayuran yang dijual dalam kemasan di sejumlah toko pertanian berasal dari produsen benih dengan ukuran kemasan bervariasi. Sementara, dalam satu kemasan hanya terdiri dari puluhan benih. Imbasnya dalam satu hamparan lahan, ia hanya bisa menanam puluhan hingga ratusan benih sesuai dengan kemampuan membeli benih.
Satu kemasan sayuran gambas atau oyong yang semula dijual Rp25.000, kini dijual Rp30.000, dengan jumlah benih 25 biji. Pada satu hamparan, ia membutuhkan sekitar empat kemasan atau 100 biji senilai Rp120.000.
“Bagi petani kecil seperti kami, harga benih kemasan terbilang mahal. Sementara, kebutuhan benih rutin saya perlukan, terutama sayuran usia pendek seperti sawi, bayam, kangkung,” terang Wawan Setiawan, saat ditemui Cendana News, Kamis (1/11/2018).
Pada satu hamparan, Wawan Setiawan menanam beberapa jenis sayuran, di antaranya sawi pahit, terong, kangkung, bayam, gambas, buncis, kacang panjang serta genjer.
Beberapa jenis sayuran merupakan sayuran usia singkat yang bisa dipanen saat usia lebih dari dua pekan, di antaranya sawi, bayam, kangkung. Kebutuhan benih yang harus selalu dibeli, membuat biaya produksi meningkat. Solusinya, dalam tiga tahun terakhir penyediaan bibit secara mandiri dilakukan untuk penanaman sayuran tahap berikutnya.
Pada penanaman sayuran, Wawan Setiawan dominan menggunakan pupuk organik dan meniadakan bahan kimia. Pasalnya, sejumlah sayuran dipesan oleh sejumlah usaha rumah makan yang langsung membeli di kebun dalam kondisi segar. Sirkulasi tanaman yang sudah dipanen dengan benih baru disediakan dengan cara menyisakan sayuran usia tua untuk digunakan sebagai bibit.
“Awalnya, saya ragu soal kualitas sayuran dari hasil pembuatan benih sendiri. Namun, setelah uci coba, ternyata hasilnya tidak kalah dengan benih yang dijual di toko dan bisa menghemat,” beber Wawan Setiawan.
Benih sayuran yang disediakan pertama kali secara mandiri, sejak dua tahun terakhir, adalah sayuran gambas dan pare. Selanjutnya jenis sayuran lain berupa terong, sawi, kacang panjang, dan bayam.
Langkah penyediaan benih dilakukan dengan memilih buah yang besar, sehat, selanjutnya dibungkus agar tidak terserang hama lalat buah. Selanjutnya buah yang matang dijemur, direndam dengan zat khusus perangsang pertumbuhan dan disimpan dalam toples kedap udara.
Upaya tersebut sesuai dengan kalkulasi yang dilakukan bisa menghemat sekitar ratusan ribu, dibanding harus membeli di toko pertanian. Beberapa benih sayuran di toko pertanian, dijual mulai harga Rp15.000, Rp30.000 hingga ratusan ribu sesuai jenis benih.
Proses penanaman secara berkelanjutan, jika masih mempergunakan benih yang dibeli dari toko, menghabiskan modal cukup besar. Proses pembuatan benih secara mandiri selain menghemat modal pembelian benih, sekaligus menjaga kualitas benih yang diciptakannya sendiri.
“Membeli benih di toko pertanian kerap bukan jaminan benih tumbuh, karena terkadang benih yang ditanam tidak tumbuh, sementara harganya mahal,” beber Wawan Setiawan.
Pembuatan benih secara mandiri, diakuinya ikut menghemat pengeluaran sekaligus memperkecil risiko kerugian saat benih tidak tumbuh. Pada benih gambas, ia mencontohkan satu buah gambas bisa memproduksi lebih dari 60 biji gambas yang sudah tersortir siap untuk ditanam.
Pada satu hamparan, ia bisa menghasilkan benih gambas untuk penanaman tahap berikutnya, lebih dari 10 kemasan jika disamakan dengan benih yang dijual dalam kemasan di toko pertanian.
Penghematan pembelian benih tersebut selanjutnya dialokasikan untuk penyediaan lahan baru, bahkan untuk menyewa lahan milik petani lain. Usaha pertanian dengan penanaman sayuran, masih memiliki prospek menjanjikan, terutama sejumlah sayuran yang bisa dipanen kurang dari satu bulan pascatanam.
Selanjutnya, sejumlah sayuran seperti terong, kacang panjang, buncis bisa dipanen lebih dari 10 kali. Hasil panen hingga puluhan kilogram dengan harga minimal Rp2.000, membuat ia memperoleh hasil ratusan ribu sepekan selama dua kali.
“Saya memanen sayuran secara bertahap, menyesuaikan hari pasaran, sepekan bisa tiga kali untuk beberapa jenis sayuran,” beber Wawan Setiawan.
Solusi penyediaan benih sayuran secara mandiri, juga dilakukan oleh petani lain di wilayah tersebut.
Hasan, petani di Desa Kelaten yang menanam sayuran juga mengaku menyediakan benih secara mandiri, sehingga tidak terus-menerus membeli benih dari toko pertanian.
Awalnya, ia menyediakan benih dari membeli di toko pertanian, namun dengan adanya potensi penyediaan benih mandiri, ia bisa melakukan penghematan.
Permintaan akan sayuran segar, diakui Hasan semakin meningkat seiring semakin banyaknya usaha kuliner di sepanjang Jalan Lintas Sumatra. Sejumlah usaha kuliner berkonsep serba sepuluh ribu, dengan kebutuhan sayuran segar kerap dipasok olehnya.
Jenis sayuran yang kerap diminati, di antaranya terong, kacang panjang, kangkung serta beberapa jenis sayuran lain. Permintaan berkelanjutan akan sayuran sekaligus menjadi peluang usaha bagi petani dan mendorong pemenuhan benih yang tinggi, sehingga disediakan secara mandiri.
Lihat juga...