TRIPOLI – Misi Pendukung PBB di Libya (UNSMIL) mengutuk serangan di Kota Sabratha, Libya Barat, oleh milisi yang dituduh menyelundupkan migran.
“UNSMIL mengutuk serangan terhadap Sabratha dan memperingatkan mengenai peningkatan perhatian lebih lanjut,” demikian pernyataan pihak perwakilan misi PBB tersebut. Ditambahkannya, tindakan semacam itu dilarang oleh Hukum Kemanusiaan Internasional.
Menurut pasukan keamanan lokal, bentrokan meletus antara pasukan pemerintah dan milisi pada Ahad, ketika anggota milisi yang tak dikenal menyerang kota tersebut dan berusaha menguasai.
“Bentrokan tersebut antara personel Kamar Operasi Negara anti-IS serta pasukan intelijen umum (pemerintah) maupun anggota milisi dewan militer, yang diusir dari kota itu pada Oktober tahun lalu,” kata seorang pejabat yang tak mau disebutkan jati dirinya.
Satu lagi sumber keamanan mengatakan, bahwa pasukan pemerintah menguasai kota tersebut setelah beberapa jam pertempuran, serta menewaskan empat petempur milisi, melukai puluhan orang lagi, dan menangkap banyak anggota milisi.
Beberapa jam kemudian pasukan pemerintah mengalahkan anggota milisi, menewaskan empat orang dan melukai serta menangkap beberapa orang lagi.
Dewan Kota Praja Sabratha mengkonfirmasi kota itu berada di bawah kendali pasukan pemerintah dan sekolah direncanakan dibuka kembali pada Selasa.
Pada Oktober 2017, pasukan pemerintah mengumumkan pengambil-alihan Sabratha dan mengalahkan milisi pesaingnya, yang dituduh menyelundupkan migran, setelah berpekan-pekan pertempuran.
Sabratha, yang terletak sekitar 70 kilometer di sebelah barat Ibu Kota Libya, Tripoli, dipandang sebagai tempat persinggahan buat migran yang diselundupkan ke Eropa. (Ant)