NTSB Hadir, Mendukung Proses Investigasi Jatuhnya JT 610

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – Tim National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat, yang merupakan utusan Boeing, Federal Aviation Federation (FAA) dan pihak General Electric (GE), hadir di Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), hadir di tengah upaya penyelidikan jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610.

Wakil Ketua KNKT, Haryo Satmiko, keberadaan NTSB, dalam rangka kerja sama, untuk menginvestigasi kecelakaan yang dialami oleh pesawat Boeing 737 Max 8, Registrasi PK – LQP yang dioperasikan Lion Air. “Sebagai pihak negara yang memproduksi pesawat terkait, dan yang memfabrikasi, mereka berkewajiban melakukan security agreement, dengan pemerintah untuk bekerja sama, dalam menginvestigasi kasus kecelakaan ini,” kata Haryo, Kamis (1/11/2018) malam.

Haryo menyebut, sudah dibentuk kelompok kerja, yang terdiri dari gabungan semua pihak. Hal itu untuk mempercepat dan mengoptimalkan hasil investigasi. “Salah satunya adalah untuk meneliti temuan serpihan pesawat,” ucap Haryo.

Investigator Ony Suryo Wibowo – Foto Ranny Supusepa

Investigator KNKT, Ony Suryo Wibowo, menyatakan, mereka memiliki waktu satu tahun untuk melakukan analisa semua aspek yang terkait pada kejadian ini. “Tapi kami berkewajiban untuk memberikan pre-eliminary report atau laporan awal paling lambat 30 hari dari waktu terjadinya kecelakaan. Artinya 30 hari dari tanggal 29 Oktober 2018. Laporannya akan mencakup data dan fakta tentang apa yang terjadi pada pesawat ini tanpa adanya analisis. Dan laporan ini akan di-publish, karena semua pihak termasuk rakyat Indonesia berhak tahu tentang data ini,” kata Ony.

Laporan awal tersebut, akan berisi facto information, untuk kronologi kejadian, disebutkan juga operator yang mengoperasikan pesawat, yang mengendalikan pesawat tanpa menyebut nama maupun lisence, hanya pengalaman dan tingkat kesiapan, data meteorologi dari BMKG, dan data dari operator bandara dimana pesawat itu berangkat.

Semua proses pengunduhan, akan dilakukan di laboratorium KNKT. Semua alat yang dimiliki KNKT Indonesia, dianggap cukup mumpuni. “Untuk analisa, nanti akan dilakukan oleh KNKT, juga dengan bantuan semua pihak, termasuk NTSB,” jelasnya.

Terkait isu yang menyatakan bahwa hasil analisa harus menunggu pihak NTSB Amerika Serikat, Ony dengan tegas menyatakan bahwa hal itu tidak benar. “NTSB itu hanya membantu kita, komandannya tetap Indonesia. Kita punya caranya, kita punya teknologinya, kita punya rencana kerja, jadi itu yang akan pergunakan. Kita sampaikan itu kepada mereka, baru mereka kasih apa yang bisa dibantu. Seperti dengan Boeing, kita butuh buku manualnya,” tegas Ony.

Sementara itu, usai ditemukannya kotak hitam dari Lion Air JT 610, yang jatuh di Tanjung Karawang di hari ke-empat pascakejadian, Kamis (1/11/2018), Badan SAR Nasional (Basarnas), langsung menyerahkan temuan tersebut, ke KNKT.

Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko menyatakan, Crash Surviveable Memory Unit (CSMU) sudah diterima oleh KNKT pada pukul 19.10 WIB, dan langsung disimpan di laboratorium KNKT. “Kita akan mengunduh data di laboratorium KNKT. Dari data ini baru selanjutnya bisa dianalisa untuk mendapatkan apa penyebab terjadi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 ini,” kata Haryo.

Haryo menyebut, KNKT sudah memperoleh semua data penerbangan, untuk mendukung semua tindakan penganalisaan. “Kami mendapatkan memang ada permasalahan teknis. Tapi itu semua menunggu untuk dibuktikan dari apa yang kami dapatkan di black box, yang kami temukan,” paparnya lebih lanjut.

Terkait berita, yang menyatakan bahwa CSMU merupakan FDR (Flight Data Recorder), Investigator KNKT, Ony Suryo Wibowo, belum bisa memastikannya, sebelum melakukan pengunduhan data dan melihat datanya. “Hingga saat ini kami harus melakukan analisa data terlebih dahulu untuk menentukan apa yang kita temukan. Jadi saya belum bisa memastikan apakah itu FDR atau CVR (Cockpit Voice Recorder). Kita tidak bisa melihat hanya dari fisik saja karena bentuknya sangat mirip,” tegasnya.

Indikasi yang hanya bisa dilihat saat ini, bahwa telah terjadi tekanan yang sangat besar pada CSMU. “Black box ini memiliki ketahanan hingga 3.000 G, dalam waktu kurang dari satu detik. Jadi sekitar mikro sekon begitu. Jadi kalau dilihat besi yang terpotong, kita bisa melihat ada tekanan yang sangat besar,” kata Ony.

Proses pengunduhan data menurut Ony, jika normal hanya membutuhkan waktu sekira dua jam. Tapi jika terjadi kerusakan, Ony menyatakan, belum bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Lihat juga...