Manfaatkan CFD, Siswa SMASK Bhaktyarsa Jual Aneka Kuliner

Editor: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penyelenggaraan Car Free Day (CFD) yang dilaksanakan setiap hari Sabtu di sepanjang Jalan El Tari Kota Maumere, dimanfaatkan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik (SMASK) Bhaktyarsa untuk menjual aneka kuliner.

“Kelompok kami membuat kue kukis cokelat. Kuenya kami buat sendiri untuk dijual di tempat ini. Kami baru pertama kali menjual di sini,” sebut Angel, siswi kelas X IPS 3, Sabtu (17/11/2018).

Angel mengaku, mempelajari cara membuat kue bersama teman-teman kelompok dari internet dan mempraktikkannya di rumah. Awalnya, agak susah, namun lama kelamaan jadi terbiasa.

“Untuk membuat kue kami mencari panduan di internet. Lalu mencoba membuat. Setelah sudah bagus, hasilnya kami jual di sekolah seminggu sekali,” paparnya.

Biasanya, proses pembuatan kue, tambah Angel, dilakukan di salah satu rumah anggota kelompok. Seminggu sekali kelompoknya berkumpul membuat kue untuk dijual di sekolah.

“Sebelumnya, kami sudah mendapat pelatihan kewirausahaan sehingga tidak terlalu sulit dalam membuat kue dan memasarkannya. Baik di lingkungan sekolah maupun di tempat lain,” ungkapnya.

Arin bersama teman-teman kelompok lainnya, terlihat menjual kue kuping gajah. Kue yang dibuat dijual seharga Rp1.000 hingga Rp5.000 sehingga bisa terjangkau para pembeli yang kebanyakan siswa dan guru di sekolah.

“Kelompok kami sering membuat kue kuping gajah, brownis cokelat dan ikan teri sambal. Semuanya kami jual di sekolah setiap Minggu dan selalu laku terjual sehingga keuntungannya menjadi milik kami,” terangnya.

Para pembeli sedang melihat aneka kue dan makanan yang djual oleh para siswa SMASK Bhaktyarsa Maumere saat kegiatan Car Free Day (CFD). Foto: Ebed de Rosary

Kepala Sekolah SMASK Bhaktyarsa Maumere, Suster Marcelina Lidi, S.SpS, mengatakan, kegiatan ini merupakan program kewirausahaan melalui Direktorat Pendidikan SMA, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud RI.

“Sudah dua tahun sekolah kami dipercaya oleh pemerintah pusat manjalankan program kewirausahaan sekolah. Program pemerintah ini bukan menjadikan SMA sebagai SMK. Tetapi untuk membantu anak-anak mengembangkan semangat berwirausaha,” jelasnya.

Melalui program kewirausahaan ini, para siswa ketika tamat dan tidak kuliah karena orang tua tidak mampu membiayai, mereka tidak kebingungan. Bisa mulai menjadi wirausaha.

“Ini sudah tahun kedua sekolah kami mendapatkan program tersebut. Ada 200 lebih SMA di Indonesia dari 13 ribu lebih SMA. Untuk mendapatkannya, ada seleksi ketat. Sekolahnya harus terakreditasi A,” terangnya.

Selain itu, kata Suster Marcelina, fasilitas sekolah harus memadai agar anak-anak bisa mengembangkan kewirausahaan tersebut serta harus ada semangat dari peserta didik.

“Ada 4 yang dipelajari di sekolah meliputi kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan makanan. Waktu diberikan satu semester. Sebelumnya ada in house training, workshop serta motivasi kewirausahaan,” sebutnya.

Untuk mendapatkan dana membuat produk, setiap kelompok siswa harus membuat proposal  diserahkan kepada pihak sekolah.

Di SMASK Bhaktyarsa Maumere, ada 36 kelompok yang mendapatkan dana.

“Para siswa membuat pasar berjalan di sekolah. Setiap Minggu setiap kelompok membuat masakan sesuai dengan keinginan mereka. Di dalam kelompok ada manajer perusahaan, keuangan dan pemasaran. Siswa dilatih membuat sebuah perusahaan kecil, menghasilkan produk, dan memasarkannya,” terangnya.

Setiap kelompok, ujar Suster Marcelina, mendapat dana Rp1 juta. Mereka harus memanfaatkan dana itu untuk meraih keuntungan.

Tahun lalu sekolah ini membuat bazar selama dua hari di Kota Maumere dan mendapatkan apresiasi masyarakat yang baik.

“Tahun lalu kami pilih kerajinan dan pengolahan makanan. Sementara tahun ini dipilih budidaya untuk tanaman dan pengolahan makanan. Secara program harus memilih dua kegiatan. Tetapi kalau anak-anak mempunyai potensi yang lain seperti rekayasa bisa diakomodir,” pungkasnya.

Lihat juga...