Hasil Panen Padi Petani Lamsel, Menurun

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sebagian pemilik lahan sawah di Lampung Selatan, mulai melakukan panen pada musim tanam ketiga (MT3) tahun ini. Namun, sebagian lainnya diperkirakan baru akan panen pada akhir November.
Eko Sulistiono, pemilik lahan padi sawah di Desa Ruang Tengah, menyebut awal November tahun ini sebagian petani sudah memasuki masa panen, meski sebagian baru akan panen pada akhir November, mendatang. Namun, padi varietas Ciherang dengan masa tanam selama 90 hari, pada MT3 kali ini mengalami penyusutan hasil dibanding masa tanam sebelumnya.
Menurutnya, penyusutan hasil panen padi itu disebabkan faktor serangan hama wereng dan burung. Meski demikian, penurunan hasil panen tidak terlalu signifikan, karena pada lahan seluas tiga perempat hektare, ia mendapatkan gabah kering panen (GKP) sebanyak 3 ton.
Eko Sulistiono, petani pemilik lahan di Desa Ruang Tengah memperlihatkan saluran irigasi yang lancar bersumber dari Gunung Rajabasa -Foto: Henk Widi
Sebelumnya, dalam kondisi normal tanpa adanya serangan hama wereng dan burung, ia bisa memperoleh hasil maksimal 3,5 ton. Penurunan produksi gabah tersebut diiringi dengan masa panen bertepatan dengan musim hujan.
“Hasil panen padi berbarengan dengan musim hujan, berimbas kadar air tinggi sekaligus sulitnya proses penjemuran, sehingga kualitas gabah menurun,” terang Eko Sulistiono, saat ditemui Cendana News, Senin (5/11/2018).
Panen padi yang bertepatan dengan musim hujan, kata Eko Sulistiono, berimbas proses penjemuran lebih lama. Pada kondisi normal, penjemuran hanya membutuhkan waktu sekitar dua hari. Namun, saat musim penghujan dengan didominasi mendung dan curah hujan, penjemuran gabah lebih lama hingga enam hari. Bahkan, membuat sebagian gabah berwarna hitam, dan sebagian berkecambah, mengakibatkan harga lebih rendah.
Menurutnya, harga gabah kering giling (GKG) yang semula mencapai Rp5.200 per kilogram atau Rp520.000 per kuintal, kini hanya Rp4.900 per kilogram atau Rp490.000 per kuintal, karena kualitas gabah kurang.
Kualitas gabah yang kurang tersebut, juga membuat harga GKP yang semula mencapai Rp4.900 per kilogram atau Rp490.000 per kuintal,  turun menjadi Rp4.700 per kilogram atau Rp470.000 per kuintal.
Gabah yang terkena hama wereng dan yang masih bisa dipanen, berwarna hitam dibandingkan padi normal yang berwarna putih.
“Secara kasat mata, gabah kering panen akan terlihat baik atau tidaknya, sehingga estimasi harga sudah bisa dilakukan oleh pedagang,” beber Eko Sulistiono.
Dengan kondisi tersebut, Eko Sulistiono dan sejumlah petani lainnya memilih menjual padi dalam bentuk beras, yang biasa dibeli oleh warga untuk dioplos dengan beras kualitas bagus. Ia juga mengaku memilih menyimpan gabah yang sudah dijemur untuk digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari, hingga masa tanam berikutnya.
Senada dengan Eko Sulistiono, petani lain bernama Dalilah (55), memilih menyimpan padi yang sudah dipanen. Selain harga yang cukup rendah, ia mengaku kebutuhan untuk makan keluarganya dari hasil panen dipenuhi dari lahan sawah yang dimilikinya.
Lahan seluas seperempat hektare dengan hasil mencapai dua ton, akan dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan sebagian dijual dalam bentuk beras.
“Menjelang akhir tahun, banyak kerabat yang melangsungkan hajatan atau resepsi pernikahan, sehingga saya membantu beras,” beber Dalilah.
Penurunan produksi padi sekaligus kualitas yang menurun akibat hama wereng dan burung, juga dirasakan oleh sejumlah petani di wilayah Penengahan, Palas dan Ketapang.
Meski mengalami penurunan hasil panen padi di wilayah tersebut, masih lebih menguntungkan dibanding hamparan sawah di wilayah Desa Kelau dan Pasuruan, yang sebagian terkena serangan hama wereng hingga tidak bisa panen.
Kerusakan tanaman padi imbas hama wereng membuat petani di daerah itu mengalami gagal panen. Meski demikian, irigasi lancar membuat petani di wilayah tersebut masih bisa menanam, meski daerah lain kekeringan pada MT3 tahun ini.
Aminah (40), petani lain yang sudah selesai melakukan masa panen dan menjemur padi varietas Ciherang, mengaku sengaja tidak menjual gabahnya. Hasil panen yang menurun membuatnya memilih untuk menyimpan gabah kering untuk digiling saat dibutuhkan.
Menyimpan gabah kering dilakukan di pabrik penggilingan padi dengan sistem titip, untuk mengatasi keterbatasan gudang di rumah miliknya. Padi yang dititipkan selanjutnya akan digiling saat akan dibutuhkan, sehingga dirinya bisa memenuhi kebutuhan beras.
Ia memilih menjual beras dengan harga Rp8.000 per kilogram dibandingkan menjual gabah kering panen dan gabah kering giling maksimal hanya mencapai Rp5.000 per kilogram.
Sejumlah petani seperti dirinya, mengaku memilih menjual gabah saat harga tinggi bersamaan dengan musim kemarau yang mempermudah penjemuran dan kualitas gabah yang bagus.
Lihat juga...