Guru Honorer di Lamsel Budi Daya Lele dan Belut
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Semangat yang kuat mendorong Stevanus Sukoco (28), salah satu pemuda di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, untuk mengembangkan usaha pembesaran ikan air tawar.
Memanfaatkan lahan terbatas di bagian rumah orang tua, Sukoco demikian ia dikenal, membuat kolam pembesaran ikan lele dengan terpal. Penggunaan media kolam terpal dilakukan akibat terbatasnya lahan sekaligus efesiensi perawatan.
Menurutnya, penggunaan kolam terpal memanfaatkan keberadaan bambu hasil kebun miliknya. Bambu yang sudah dibelah dibuat menjadi kerangka untuk pembuatan kolam terpal, dengan jumlah sekitar tiga unit, masing-masing berukuran 3 x 4 meter.
Kolam terpal seluas 12 meter persegi dipergunakan untuk memelihara ikan lele jenis Sangkuriang, berukuran 7 centimeter hingga memasuki usia panen 90 hari berjumlah sekitar 1000 ekor. Hasil panen lele kerap dibeli oleh konsumen langsung, sebagian dibeli oleh pemilik usaha kuliner pecel lele.

Prospek kebutuhan ikan air tawar jenis lele menurut Sukoco masih terbuka lebar, dengan berkembangnya usaha kuliner di wilayah tersebut. Sebelumnya dalam kurun waktu lima tahun, permintaan akan ikan air tawar jenis lele kerap didatangkan dari wilayah Sragi, Palas.
Semenjak sejumlah warga mengembangkan budi daya ikan air tawar tanpa tergantung kolam tanah melainkan kolam terpal, permintaan bisa dipenuhi dari pembudidaya lokal di wilayah Penengahan.
“Pola budi daya yang benar dengan sistem penggantian air, pemberian pakan yang baik membuat kualitas ikan budi daya dengan kolam terpal cocok untuk pasokan pemilik usaha kuliner dengan harga terjangkau, dan distribusi lebih dekat,” terang Stevanus Sukoco, saat ditemui Cendana News di dekat kolam terpal miliknya, Kamis (1/11/2018).
Penggunaan kolam terpal, kata Sukoco, menjadi salah satu inovasi budi daya ikan air tawar pada lahan yang terbatas dan efesiensi biaya dibanding membuat kolam tanah.
Modal awal untuk pembuatan kerangka bambu, terpal sebagai kolam bisa dipergunakan maksimal empat tahun sesuai kualitas terpal. Bibit ikan lele jenis Sangkuriang yang semula sulit dicari, saat ini mudah diperoleh seiring semakin banyaknya penyedia bibit lele dengan indukan bersertifikat.
Tingkat kegagalan budi daya ikan lele dalam kolam terpal, hanya berkisar 20 persen, dipengaruhi faktor kanibalisme dan penyakit. Sebagai upaya mengurangi sifat kanibalisme ikan lele dan penyakit, pembersihan dan pemberian pakan yang rutin sekaligus pemberian vitamin dan mikrobiotik terus dilakukan. Pemilihan jenis lele Sangkuriang sekaligus meminimalisir tingkat kanibalisme lele, sehingga hasil panen lebih maksimal.
“Ikan lele dikenal sebagai ikan dengan sifat kanibal tinggi, namun jenis Sangkuriang lebih rendah sifat kanibalismenya dan cukup menguntungkan,” beber Sukoco.
Harga ikan lele di level pembudi daya ke konsumen langsung, saat ini mencapai Rp22.000. Sementara untuk pemilik usaha kuliner Rp20.000. Harga pakan yang mengalami kenaikan hingga Rp20.000 per sak berukuran 50 kilogram dari semula Rp280.000 menjadi Rp300.000, diakuinya menjadi faktor harga ikan ikut naik.
Hasil panen ikan mencapai dua kuintal dengan harga rata-rata Rp20.000, ia sudah bisa mendapatkan omzet Rp4 juta, yang dipergunakan untuk menutupi biaya pembelian bibit, pakan serta biaya operasional.
Sebagai pembudi daya ikan, ia berharap harga pakan turun, sehingga banyak masyarakat bisa mengonsumsi ikan air tawar dengan harga terjangkau. Penambahan kolam terpal dengan berbagai ukuran, termasuk penggunaan kolam terpal bulat, bahkan sedang dilakukan oleh Sukoco. Meski jauh dari sungai, pemanfaatan sumber air dipenuhi dengan mempergunakan air sumur mempergunakan sumur pompa.
