Gelar OCDay, Siswa SLB Dikenalkan Permainan Tradisional

Editor: Mahadeva WS

BALIKPAPAN – Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri di Balikpapan, mengenalkan sejumlah permainan tradisional dan pendidikan karakter, kepada siswanya. Kegiatan tersebut dilakukan dalam acara Hari Belajar Luar Kelas se Dunia atau Outdoor Classroom Day (OCDay).

Para siswa SLBN terlihat asik dan antusias, mengikuti permainan tradisional dan pendidikan karakter yang diajarkan. Tidak hanya mengenalkan permainan tradisional, tapi mereka juga mengikuti simulasi sadar bencana.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan, Sri Wahyuningsih – Foto Ferry Cahyanti

Saat sirine dibunyikan, siswa bergegas menuju titik kumpul sesusai instruksi yang diterima. “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan konsep belajar yang menyenangkan. Karena selama ini pembelajaran di sekolah lebih memberatkan anak-anak,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan, Sri Wahyuningsih, Kamis (1/11/2018).

Pada hari belajar di luar sekolah, kegiatannya pendidikan yang diberikan lebih menyenangkan. Hanya saja pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Kendati pelaksanaannya dimulai pada pukul 07.00 hingga 09.30 Wita. “Kami serahkan mekanisme teknisnya kepada sekolah. Mulai datang pun diberikan 5 S yakni Salam, Senyum, Sapa, Sopan dan Santun. Itu kan juga salah satu pendidikan karakter,” papar perempuan yang akrab disapa Yuyun tersebut.

Asdep Pemenuhan Hak Sipil, Informasi dan Partisipasi Anak, Kementerian PPPA, Lies Rosdianty, menjelaskan, hari belajar di luar kelas bertujuan agar anak-anak bisa belajar dengan suasana yang berbeda dan tidak membosankan. “Ini juga sesuai dengan arahan presiden, bahwa belajar itu sebaiknya lebih banyak di luar kelas. Minimal 60 persen dan ini dilaksanakan serentak seluruh sekolah di Indonesia,” kata Lies Rosdianty.

Kementerian PPPA telah membuat pedoman penyelenggaraan pendidikan, dan hak anak di sekolah. Sehingga sekolah benar-benar menjadi lembaga ramah anak. Tapi itu disesuaikan, karena tidak bisa disamakan antara sekolah umum dengan luar biasa.

Kepala SLBN Balikpapan, Mulyono, mengatakan, anak-anak berkebutuhan khusus punya hak untuk tumbuh dan berkembang. Termasuk mengikuti kegiatan belajar di luar kelas. “Terlihat ketika mereka mengimplementasikannya begitu senang. Dan anak-anak sangat terharu dengan kegiatan yang dilaksanakan hari ini,” ujarnya.

Dia berharap, OCDay tidak hanya digelar setahun sekali. “Bisa juga pada peringatan Down Syndrome, Hari Autis dan kami upayakan anak-anak terlibat aktif. Hal itu tentu untuk membuat mereka tetap senang dalam kegiatan belajar mengajar,” tandas Mulyono.

Pada peringatan OCDay, tidak hanya mengenalkan permainan tradisional, tapi SLBN juga menggelar pentas seni yang ditampilkan oleh anak-anak seperti menyanyi, berpuisi dan menari.

Lihat juga...