Kotak Buku Dukung Kemajuan Kampung Literasi

Editor :Mahadeva WS

LAMPUNG – Sejak dicanangkan sebagai Kampung Literasi  pada September 2017, oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Desa Pasuruan kini terus berinovasi mengembangkan minat baca warganya.

Salah satu inovasi untuk mengentaskan warga pedesaan dari tuna aksara, dilakukan dengan one home one library atau satu rumah satu perpustakaan. Bekti (38), salah satu warga Desa Pasuruan menyebut, inovasi membudayakan kecintaan membaca harus diiringi fasilitas memadai. Sejak dicanangkan oleh Kepala Sub Direktorat Pendidikan Kesetaraan dan Pendidikan, Dr.Kastum,M.Pd, tahun lalu, ratusan rak buku berbahan kayu sudah disediakan.

Rak buku yang ada di setiap rumah warga digunakan untuk meletakkan buku bacaan, terutama bagi anak-anak. Saat anak-anak bermain mereka bisa membaca buku sebagai kegiatan positif. Pada akhir Oktober hingga awal Novemberi 2018, dilakukan penambahan kotak buku untuk mendukung program satu rumah satu perpustakaan. Sebelumnya, ada ratusan kotak buku terbuat dari kayu, untuk penyimpanan buku agar terhindari dari resiko jatuh, kotor oleh debu dan hilang.

Buku yang diletakkan di kotak merupakan buku gratis, dan keberadaanya diganti secara berkala dari perpustakaan milik Motor Pustaka, oleh pegiat literasi Sugeng Haryono. “Tambahan kotak buku bantuan untuk kampung literasi, tentunya sangat membantu warga terutama anak-anak, karena buku bisa disimpan lebih rapi dengan penutup khusus, sehingga tidak gampang berdebu, secara estetika juga sedap dipandang mata,” terang Bekti saat ditemui Cendana News, sedang mencoba fasilitas baru kotak buku di depan rumahnya, Kamis (1/11/2018).

Setahun berjalan, kampung literasi ikut mendorong anak-anak di kampung tersebut lebih mencintai buku. Kunjungan ke perpustakaan, di rumah pegiat literasi Motor Pustaka semakin hari semakin meningkat. Buku bacaan bisa dipinjam dan saat belum dibaca, bisa disimpan di kotak buku yang disediakan di setiap rumah warga. Ribuan buku pengetahuan tersebut, membuat anak-anak bisa mengisi waktu luang di rumah dengan membaca buku yang bisa dipinjam.

Sugeng Hariyono (baju putih) melakukan proses pemasangan sebanyak 85 kotak buku di setiap rumah warga Desa Pasuruan yang dicanangkan sebagai kampung literasi – Foto Henk Widi

Keberadaan kotak buku di depan rumah juga disambut positif oleh Ruby (40), salah satu ibu rumah tangga di kampung literasi. Kotak buku membuat anak-anaknya tertarik untuk ikut membaca buku. Kotak buku menjadi salah satu inovasi kampung literasi, yang menyediakan buku gratis dan mudah dijangkau anak-anak. “Sebelumnya kotak buku terbuat dari kayu dan sekarang sudah dipasang kotak permanen dari besi dan kaca, lebih indah bahkan buku lebih rapi,” beber Ruby.

Ruby berharap, buku bacaan bergambar bisa ditambah lebih banyak, karena di desa tersebut cukup banyak anak usia dini. Keberadaan buku cerita bergambar telah meningkatkan minat anak-anak untuk membaca.

Sugeng Hariyono, pegiat literasi Motor Pustaka, sekaligus fasilitator di Kampung Literasi mengungkapkan, bantuan kotak buku merupakan bagian inovasi pengembangan literasi. Sebanyak 85 kotak buku dengan desain yang tertutup, yang dilengkapi kunci tersebut, merupakan bentuk tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibilty (CSR) dari BUMN, PT. PLN (Persero).

Fasilitas tersebut menjadi bentuk kepedulian perusahaan yang bergerak di sektor kelistrikan untuk mendukung budaya membaca. “Program PLN Peduli, ikut mendukung minat baca masyarakat dan puluhan kotak sedang dalam tahap pemasangan di setiap rumah,” terang Sugeng Hariyono.

Puluhan kotak buku berbahan besi selanjutnya akan dilaunching secara resmi oleh General Manager PLN Distribusi Lampung dalam waktu dekat. Sugeng Hariyono, mengapresiasi instansi terkait, yang ikut mendorong upaya peningkatan minat baca di masyarakat pedesaan. Melalui dukungan fasilitas tersebut, kampung literasi Pasuruan bisa menjadi motor penggerak upaya pemberantasan buta aksara dan meningkatkan minat baca masyarakat.

Lihat juga...