Koster Ingin Kembangkan Pengobatan Herbal dan Tradisional

Editor : Mahadeva WS

DENPASAR – Potensi tanaman yang bisa dijadikan obat tradisional di Bali sangat banyak. Dengan kondisi tersebut,  Gubernur Bali, Wayan Koster, ingin mengembangkan potensi tersebut menjadi industri obat tradisional.

Pengembangan tersebut, diharapkan bisa memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. “Bali itu mempunyai 3.000 tanaman obat, yang jika dikembangkan akan sangat berguna bagi masyarakat. Saat ini produksi yang terkenal dari Bangli adalah loloh cemcem dan loloh kunyit saja, dan itu terbukti bagus untuk kesehatan masyarakat, kenapa tidak kembangkan saja itu,” tutur Koster pada acara penandatanganan hibah Program Pengembangan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat (P4OT) oleh Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Kamis (1/11/2018).

Lebih lanjut diharapkan, Bali bisa membuat industri obat-obatan herbal, yang memang sudah teruji secara klinis. Hal tersebut seperti yang sudah dikembangkan di Tiongkok. Harapannya, pengobatan herbal dan modern di Indonesia bisa disinergikan. “Ke depan, saya harap Bali akan menjadi pusat pengobatan herbal di Indonesia, bahkan bisa menyaingi Tiongkok,” imbuhnya.

Selain pengobatan, Gubernur Koster juga berencana untuk memfasilitasi para tenaga pengobatan herbal, atau yang lebih dikenal sebagai Balian. Balian yang telah bersertifikat, dan telah membuka praktik akan didata, untuk selanjutnya difasilitasi di rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta.

Saat ini, sudah ada peraturan yang mengatur tentang pengobat tradisional yaitu, PP No.103/2004, tentang pelayanan pengobatan tradisional. Bahkan di dalam UU No.36/2009, tentang pengobat tradisional terakomodasi sebagai tenaga kesehatan.

Untuk melancarkan rencana tersebut, Koster akan bekerjasama dengan Universitas Udayana. Lembaga pendidikan tersebut diharapkan dapat membantu memfasilitasi semua rencana tersebut. Pemerintah daerah akan mendukung dengan penyiapan payung hukum. “Kami akan siapkan Perda yang mengatur tentang itu, masalah pendanaan dan segala macam,” jelas Koster.

Koster juga berencana, untuk menyiapkan laboratorium penelitian. Laboratorium direncanakan dibangun di Bangli, yang juga akn dijadikan sebagai kawasan budi daya tanaman obat. Bangli yang memiliki udara dingin, cocok untuk budi daya tanaman obat.

Direktur Produksi dan Distribusi Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Dr. Dra. Agusdini Banun Saptaningsih, mendukung rencana dari Gubernur Wayan Koster. Menurutnya, di Kementerian Kesehatan, sudah ada Direktorat pengobatan herbal, yang mengembangkan obat-obat tradisional seperti jamu.

Indonesia memiliki potensi pasar dan keanekaragaman hayati tinggi, yang bisa mendukung pengembangan obat tradisional. Untuk itu Bali khususnya Bangli, dipilih untuk menerima fasilitas P4OT. “Kabupaten Bangli sudah menerima fasilitas P4OT di 2013, dimana assessment dan fasilitas dilaksanakan pada tahun yang sama,” jelasnya.

Di 2016, telah dilaksanakan uji fungsi dan di 2018, akan dilaksanakan hibah. Dengan diberikannya hibah P4OT, diharapkan Provinsi Bali bisa mengembangkan obat tradisional dan kosmetika berbahan herbal. “Ke depan kami berharap seluruh stakeholder terus bersinergi dan kerjasama, agar rencana tersebut bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Lihat juga...