Distribusi Elpiji Bersubsidi di PPU Tidak Tepat Sasaran
PENAJAM – Masyarakat ekonomi mampu di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), banyak yang menggunakan elpiji bersubsidi. Hal tersebut diduga menjadi pemicu, seringnya kelangkaan elpiji tiga kilogram di daerah itu.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Perindagkop UKM) Kabupaten PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro, menyebut, distribusi elpiji bersubsidi menjadi tidak tepat sasaran. “Warga yang membeli elpiji tabung ukuran tiga kilogram tidak hanya kalangan bawah, tapi warga mampu, kelas ekonomi atas, juga banyak yang menggunakan elpiji bersubsidi,” ujarnya, Kamis (22/11/2018).
Masyarakat yang tidak termasuk dalam kategori kurang mampu, seharusnya menggunakan elpiji nonsubsidi. Namun kenyataan, banyak rumah tangga mampu menggunakan elpiji bersubsidi. Disperindagkop UKM Kabupaten PPU mengimbau, warga ekonomi mampu, tidak lagi menggunakan elpiji tiga kilogram, dan beralih ke elpiji nonsubsidi. Hal itu dibutuhkan, agar kelangkaan gas subsidi tidak terjadi lagi.
Sejak dua pekan terakhir, elpiji bersubsidi atau yang dikenal dengan gas melon, mendadak susah dicari di PPU. Hal itu menjadikan masyarakat kurang mampu resah. Dampaknya, harga isi ulang gas melon mencapai Rp25.000 sampai Rp40.000, yang tentu jauh lebih mahal dari Harga Eceran Tertinggi (HET).
HET yang ditetapkan berdasarkan wilayah distribusi, di Kecamatan Penajam dan Sepaku harganya Rp19.000 per tabung, Kecamatan Waru dan Babulu Rp18.000 per tabung. Untuk tiga kelurahan terjauh di Kecamatan Penajam, Jenebora, Pantai Lango dan Gersik HET ditetapkan Rp22.000 per tabung.
Untuk mengatasi kejadian kelangkaan, Pemkab PPU akan menerbitkan aturan penggunaan elpiji tiga kilogram, berdasarkan penghasilan masyarakat. “Aturan penggunaan tabung gas melon juga berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil), berdasarkan golongan. Kami sedang rancang aturan itu dan ditargetkan diberlakukan pada 2019,” pungkasnya. (Ant)