Dinkes: 328 Balita di Sikka Terancam Kurang Gizi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH. Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Sebanyak 328 dari 19.356 balita di kabupaten terancam mengalami kekurangan gizi.

“328 balita ini berada di bawah garis merah seperti yang tertera di Kartu Menuju Sehat yang dimiliki,” sebut kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH, Jumat (23/11/2018).

Dikatakan, jumlah terbanyak berada di kecamatan waigete, 63 balita, disusul puskesmas Watubaing di kecamatan Talibura sebanyak 30 balita. Juga di Wolofeo, 28 balita serta Magepanda 25 balita.

“Balita tersebut sudah termasuk kurang sehat dan ada potensi untuk menjadi gizi buruk kalau tidak diperhatikan makanannya dan terserang penyakit. Kami dengar ada desa yang mengalokasikan dana untuk Pemberian Makanan Tambahan bagi balita namun belum banyak yang melakukan itu,” tuturnya.

Gizi anak bukan cuma soal asupan makanannya tetapi juga intervensi faktor lain seperti kesehatan lingkungan, misalnya soal memiliki jamban. Selain itu 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) harus dijalankan.

“Lima pilar STBM yakni stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum atau makanan, sampah rumah tangga dan limbah cair rumah tangga harus benar dijalankan,” pesannya.

Kepala bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Telly Gandut, SKM menambahkan, kurangnya gizi pada anak dapat berakibat stunting, dimana untuk mengatasinya ada intervensi spesifik dan sensitif.

“spesifik berupa intervensi langsung yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan dengan sasaran 100 hari kehidupan sejak dalam kandungan hingga berumur 2 tahun,” terangnya.

Kalau intervensi langsung pengaruhnya terhadap stunting hanya sebesar 30 persen saja sementara intervensi sensistif atau tidak langusng dilaksanakan oleh yang bukan petugas kesehatan dan fokus ke semua masyarakat.

“Intevensi tidak langsung ini berpengaruh sebesar 70 persen terhadap stunting. Dengan demikian ini yang harus lebih fokus dijalankan, termasuk pemerintah desa harus juga terlibat aktif,” pesannnya.

Badan Kesehatan Dunia WHO menekankan empat poin penting yang harus dilakukan untuk bayi menuju sehat pada seribu hari pertama kehidupan, yakni inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif umur nol sampai enam bulan, makanan pendamping ASI serta terus menyusui sampai bayi berusia 2 tahun.

“Bila ini dilakukan maka dapat mencegah balita kurang gizi. Namun orang tua khususnya harus mengetahui apa yang harus dilakukan dan selalu berkonsultasi dengan petugas kesehatan untuk mencegah balita kurang gizi dan stunting,” tegasnya.

Lihat juga...