Tillandsia, Tanaman yang Tidak Butuh Tanah untuk Berkembangbiak
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Salah satu tanaman unik yang akan dipamerkan Taman Buah Mekarsari (TBM) pada pengunjung saat Color Season 3 adalah berbagai tanaman epifit. Yaitu tanaman yang hidupnya menempel pada tanaman lain maupun benda lain tapi tidak merugikan media yang ditempelinya.
Kali ini, Cendana News berkesempatan untuk bertemu dengan Staf Agro Mekarsari Sodikin untuk melihat keunikan Tillandsia, tanaman epifit asli Meksiko yang dikembangbiakan di Nursery Mekarsari.
“Uniknya tanaman ini adalah tidak membutuhkan tanah untuk berkembangbiak. Tillandsia ini masuknya ke aeroplant atau tanaman udara,” kata Sodikin, Rabu (10/10/2018).
Ada beberapa yang toleran pada tanah, tapi perkembangbiakannya agak sedikit terhambat. Kebanyakan akarnya akan menjadi busuk.
“Butuhnya itu kering. Jadi untuk penyiramannya biasanya cuma kita semprot sedikit saja,” kata Sodikin.
Tanaman ini termasuk yang tidak membutuhkan banyak air dan bisa tumbuh di bangkai kayu (fosil) maupun batu atau hanya digantungkan saja. Habitat asli tanaman Tillandsia ini biasanya di hutan dan di gurun.
“Saat ini di Mekarsari, kita punya 3 jenis yaitu Kayen, Skyplant dan Bromelia dari keseluruhan 600 varietas Tillandsia yang tercatat di dunia. Tapi memang semuanya dapat dikenali dari jenis daunnya yang panjang meruncing,” papar Sodikin sambil menunjukkan tiga jenis Tillandsia.
Perkembangbiakan Tillandsia yang masuk ke Mekarsari sekitar tahun 2000-an ini, menurut Sodikin, bisa dari tunas dan dari biji.
“Biasanya dari tunas. Nanti jika sudah bermunculan baru kita pisahkan. Dari satu tanaman, biasanya akan banyak tunas baru. Ada juga yang berasal dari biji, jika memang ada bantuan serangga untuk penyerbukan. Bijinya kecil, seperti biji sawi,” ujar Sodikin lebih lanjut.
Sejak dari tunas, Tillandsia hanya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan sampai 1 tahun untuk memiliki tunas baru. Dan akan bisa lebih cepat jika dilakukan pemotongan pada ujung-ujung tanaman yang mengarah ke atas.

Mekarsari biasanya menjual Tillandsia ini sebagai tanaman hias dan dijual bersamaan dengan medianya.
“Yang laku biasanya kayen. Kita jual itu Rp150 ribu, untuk beberapa tanaman yang ditumbuhkan di fosil atau di batu. Kalau dulu dijual di kantong, per satu tanaman hanya Rp15 ribu. Sekarang dicoba untuk meningkatkan nilainya dengan menyatukannya dengan media tanamnya,” kata Sodikin.