Tandak, Tari Kegembiraan Masyarakat Adat Kawaliwu
Editor: Mahadeva WS
LARANTUKA – Tari Tandak merupakan tarian yang selalu dipentaskan masyarakat adat Kawaliwu, Desa Sinar Hading, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur saat penyelenggaraan prosesi adat.
“Tari ini merupakan tarian yang biasa dipentaskan, sebagai ucapan kegembiraan menyambut kehadiran sang anak yang akan menjalani ritual Lodo Ana di Kawaliwu,” ujar Nikolaus Sira Liwun, anak suku Kawaliwu Desa Sinar Hading, Minggu (14/10/2018).
Tarian Tandak, ditarikan semalam suntuk, sampai anak yang akan dibuatkan ritual adat Lodo Ana, dibawa ke tengah tempat ritual keesokan harinya, untuk diperkenalkan kepada setiap anak suku masyarakat Kawaliwu. “Minggu malam ini saat membawakan tarian Tandak, juga ada saling berbalas pantun dan ada seorang tua yang melantunkan syair yang menceritakan sejarah perjalanan suku tersebut menggunakan bahasa adat yang tidak bisa dimengerti oleh semua orang,” terangnya.
Orang yang membawakan syair atau cerita saat menari Tandak, biasa dinamakan Opak. Mereka harus diberi kekuatan atau dinamakan Hudu Bakat, agar bisa membawakan cerita dengan lancar. “Setelah menjalani ritual Hudu Bakat, cerita akan dibawakan dengan lancar. Membawakan kisah sejarah dan asal usul suku saat dihadiri banyak orang yang menyaksikan tarian ini,” tambahnya.

Markus Ura Liwun, tetua adat Kawaliwu menjelaskan, petunjuk awal dan sejarah asal usul suku di Kawaliwu, diceritakan oleh Lusi Menawa, atau burung elang yang duduk di atas bubungan rumah. “Menurut kisah sejarah, seorang anak ditemui di atas pohon, oleh seorang lelaki bernama Tiban Nuli Barang Pali, yang hendak ke laut. Seteah ditanyai, tidak ada yang mengetahui asal-usul anak tersebut dan akhirnya Dia mengambil anak tersebut dan mengasuhnya,” bebernya.
Anak tersebut tidak memiliki nama, dan setelah dewasa baru diberi nama sendiri, dengan nama yang tidak lazim dimiliki oleh orang kebanyakan. “Dalam tarian Tandak malam ini menceritakan tentang sejarah, kisah perjalanan asal usul suku ini yang berasal dari Keroko Pukeng dan kisah ini selalu disampaikan saat ritual adat seperti ini,” terangnya.
Menurut Markus, tarian Tandak diikuti siapa saja anak suku, dengan menggenakan pakain adat berupa Kewatek atau kain tenun, serta menggunakan baju kaus oblong berwarna putih. Sementara kaum perempuan, menari menggunakan kain tenun dan baju adat Senuji berwarna hitam. “Kaum lelaki dan perempuan juga mengenakan topi anyaman daun Lontar, atau ikat kepala dari kain, yang dilengkapi dengan bulu-bulu ayam berawarna putih. Juga memegang sebuah kayu, yang bagian ujungnya dihiasi bulu-bulu ayam,” terangnya.
Saat membawakan tarian, semua peserta mengikuti irama hentakan kaki sambil berjalan mengitari halaman kosong, tempat tarian dibawakan. Mereka bergerak dipandu oleh barisan depan. “Dalam menarikannya, biasanya peserta juga ikut beryanyi dan mengeluarkan teriakan kegembiraan sekaligus sebagai penyemangat. Siapa saja boleh ikut membawakan tarian ini, tapi harus menggunakan pakaian adat,” tandasnya.