Relawan Tinggalkan Area Gempa, Warga Diharapkan Mandiri

Editor: Satmoko Budi Santoso

PALU – Pascagempa dan tsunami melanda wilayah Palu, Donggala, Sigi, Sulawesi Tengah, sejumlah relawan melakukan bantuan untuk korban bencana.

Para relawan yang berasal dari berbagai bidang keahlian tersebut mulai berada di wilayah Sulteng satu hari pasca gempa, sebagian sepekan setelah gempa.

Asri, koordinator relawan asal Jakarta dari komunitas Baitul Maal Toyibah mengaku, akan kembali ke Jakarta setelah melakukan tugas di Kabupaten Donggala.

Asri, koordinator relawan Baitul Maal Toyibah yang membuat dapur umum di wilayah Desa Wombo Kalonggo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah [Foto: Henk Widi]
Asri menyebut, sudah berada di Desa Wombo Kalonggo, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, sejak Selasa (9/10) untuk membuat dapur umum kebutuhan pengungsi terdampak gempa dan tsunami di wilayah Donggala.

Ia menyebut, sejak mendirikan dapur umum harus memasak makan pagi, siang dan malam sebanyak 1000 porsi. Setelah melakukan aktivitas selama dua pekan, tim beranggotakan 15 orang tersebut siap kembali ke Jakarta.

Berada di wilayah yang dikenal sebagai penghasil bawang goreng tersebut, ia mengaku sangat prihatin dengan kondisi di lokasi gempa. Sebagian warga disebutnya tinggal di tenda pengungsian menggunakan tenda-tenda darurat yang didirikan secara mandiri, oleh pemerintah kabupaten serta relawan dari negara lain.

Sebelum masa tanggap darurat bencana di wilayah gempa, tsunami pada Jumat (26/10) ia menyebut, meninggalkan Sulteng dan dapur umum akan dilanjutkan oleh masyarakat secara mandiri.

“Kami akan meninggalkan Donggala, namun dapur umum tetap akan berjalan untuk membantu menyediakan bahan makanan bagi warga. Dapur umum rencananya akan dilanjutkan oleh tim lain,” terang Asri, koordinator relawan Baitul Maal Toyibah, saat ditemui Cendana News di bandara Mutiara Sis al Jufri, Kamis (25/10/2018).

Selama di dapur umum, Asri menyebut, warga sudah seperti keluarga sehingga saat kepulangan warga sebagian mengantar hingga ke bandara. Ia berharap, pascagempa, tsunami, warga bisa kembali melakukan aktivitas dengan normal. Termasuk untuk bisa melakukan kegiatan mencari nafkah dengan pekerjaan utama sebagai produsen bawang goreng.

Pemulihan pascabencana diakuinya sangat penting agar warga bisa melakukan perbaikan rumah serta sejumlah fasilitas umum.

Zulfikar, relawan lokal asal desa setempat mengaku, sangat terbantu keberadaan para relawan dari berbagai unsur. Ia menyebut, saat ini warga di wilayah Desa Wombo Kalonggo berjumlah 1415 jiwa dengan sebanyak 385 kepala keluarga.

Pascarelawan penyedia dapur umum kembali, ia berharap, warga bisa menyediakan makanan secara mandiri.

“Profesi utama warga sebagai pembuat bawang goreng semoga bisa kembali pulih agar bisa menghidupi keluarga. Tidak selalu tergantung pada bantuan,” terang Zulfikar.

Arif Atan (kiri) relawan asal Malaysia yang bergabung bersama tim Aksi Cepat Tanggap membantu korban bencana gempa di sebanyak 20 titik [Foto: Henk Widi]
Relawan lain asal negara jiran Malaysia, Arif Atan, menyebut, selama tiga hari berada di Sulteng bersama sebanyak 9 orang relawan mengunjungi posko pengungsian. Ia menyebut, pendistribusian bantuan bagi pengungsi masih menjadi kendala sehingga sejumlah pengungsi belum mendapat bantuan yang merata terutama di wilayah terpencil.

Bersama tim ia mengaku, datang memberikan bantuan kepada pengungsi melalui pemerintah untuk meringankan beban. Sebagai negara tetangga berharap, para korban bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Melihat kondisi gempa, tsunami dan dampak likuefaksi ia menyebut, dampak kerusakan cukup parah.

Lokasi likuefaksi berimbas bangunan dan korban jiwa cukup banyak. Sekembalinya ke Malaysia, ia menyebut, pengalaman penanganan bencana gempa dan tsunami akan menjadi masukan bagi instansi yang menangani bencana alam.

Potensi bencana juga bisa terjadi di negaranya meski sistem antisipasi bencana sudah dilakukan.

Lihat juga...