Prototipe PRM, Selesai di 2019

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – Semakin berkembangnya teknologi nuklir, mendorong Indonesia merencanakan pembuatan Portal Radiation Monitor (PRM). Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) akhir September lalu menyebut, fasilitas tersebut, rencananya akan dipasang pada akses-akses transportasi, baik laut maupun udara.

Staf Enggineering, Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Awwaludin menyatakan, PRM merupakan suatu alat, yang mampu mendeteksi keberadaan bahan radioaktif, hanya berdasarkan pancaran radiasi. “Saat ini, kita sudah melakukan uji lapangan PRM, untuk memenuhi permintaan presiden, yaitu 33 buah PRM. Jadi tinggal dikembangkan secara masal. Sekarang masih menunggu partner, yang menjual ke pasaran,” kata Awwaluddin, saat ditemui di Kantor PAIR Jakarta.

Dengan PRM, bisa dilakukan pemantauan semua barang yang melewati alat tersebut. “Pemantauan PRM ini meliputi, apakah barang itu memiliki radiasi atau tidak, kapasitas radiasinya berapa, dan radiasi ini berasal dari jenis apa. Dan PRM mampu mendeteksi semua bahan radioaktif, baik yang kuat maupun yang lemah. Contohnya Iridium dan Cesium,” tuturnya lebih lanjut.

Sistem pemantauan akan dimulai, saat suatu benda melewati PRM. Hasil pemindaian akan langsung muncul pada layar display, termasuk informasi kapasitas radiasi dan apa benda yang terpindai tersebut. “Jika sudah diketahui bendanya, maka akan bisa diketahui masa paruh waktunya berapa lama,” papar Awwaluddin.

Pada PRM, alat yang masih harus diimpor dari luar negeri adalah detektornya. Sisa bahan baku pembuatan lainnya, dipenuhi dari dalam negeri. “Selama ini kami ambil dari Hungaria, untuk detektor. Sumber lainnya bisa berasal dari Amerika Serikat atau Jepang,” jelasnya.

Kepala Batan, Djarot S Wisnubroto, menyampaikan, proyek PRM merupakan konsorsium, yang didanai oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. “Konsorsiumnya adalah Batan, Bapeten, UGM dan PT LEN. Untuk prototipe, akan selesai di 2019,” ungkap Djarot.

Lihat juga...