Pohon Kayu Menjaga Ketersediaan Air di DAS Way Pisang

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kelestarian kawasan Register 1 Way Pisang, menjadi salah satu penjaga ketersediaan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Pisang. Pada musim kemarau ini, sebagian kawasan tersebut masih tetap memiliki kawasan hijau, karena kesadaran masyarakat mempertahankan sejumlah pohon.
Beberapa jenis pohon yang tetap dilestarikan tersebut meliputi Jati (Tectona grandis) dan Gmelina  (Gmelina arborea Roxb) atau dikenal jati putih, Sengon (Albizia chinensis) dan bambu (Bambuseae) serta berbagai jenis pohon kayu.
Toyifun (39), warga Dusun Karanganyar, Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, menyebut kawasan Register 1 Way Pisang merupakan wilayah milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun, sebagian kawasan dihuni oleh masyarakat dari 16 desa, sebagian berada di dekat DAS Way Pisang.
Meski berstatus milik KLHK, namun sebagian masyarakat petani masih memiliki lahan garapan untuk menanam jagung, pisang, kelapa, karet, sawit serta berbagai tanaman produktif lainnya.
Kawasan Register 1 Way Pisang seluas ribuan hektare yang meliputi Kecamatan Palas, Sragi, Penengahan, Ketapang, kata Toyifun, menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Musim kemarau disebutnya cukup berimbas bagi ribuan petani yang menggarap lahan, sehingga tidak bisa bercocoktanam.
Toyifun, warga penggarap lahan masih melestarikan tanaman jati dan berbagai jenis pohon untuk menahan longsor dan penjaga resapan air [Foto: Henk Widi]
Meski demikian, sebagian warga masih bisa mendapatkan hasil berkat pemanfaatan lahan garapan di kawasan register 1 tersebut, termasuk Toyifun.
”Kawasan register 1 Way Pisang, awalnya merupakan hutan penyangga dan sampai sekarang masih menjadi kawasan untuk mempertahankan tanaman konservasi secara swadaya oleh masyarakat, tanaman yang dipertahankan membuat Way Pisang masih mengalir,” terang Toyifun, Rabu (17/10/2018).
Toyifun menyebut, tanaman jati, jati putih, sengon, bambu, menjadi jenis tanaman yang dipertahankan warga di kawasan yang didominasi perbukitan tersebut. Sebagian kawasan yang memiliki cekungan, masih digarap sebagai lahan pertanian sawah, dan di sejumlah lereng dimanfaatkan sebagai lokasi pertanian jagung dan pisang.
Berbagai jenis tanaman meliputi jati, jati putih, sengon dan bambu diakuinya memiliki fungsi ekologis menjaga tanah di wilayah tersebut dari longsor.
Sejumlah mata air, bahkan masih muncul di kawasan itu, di kala wilayah lain kesulitan air. Kehadiran air di sejumlah belik, digunakan petani untuk menyiram tanaman hortikultura berupa sayuran sawi, kangkung, dan bayam.
Kawasan hijau di register 1 Way Pisang diakuinya membuat sungai tersebut masih bisa mengalirkan air, untuk dipergunakan petani menggunakan mesin pompa.
“Kelestarian pohon di wilayah register 1 sebetulnya sudah dilakukan dengan penanaman pohon gmelina, yang bisa dimanfaatkan daun dan batangnya,” beber Toyifun.
Memiliki akar tunjang dan akar serabut, membuat tanaman pohon gmelina bisa menahan air dan unsur hara. Pohon tersebut oleh petani ditanam sebagai tanaman produktif untuk bisa dipanen ketika kayu berusia lebih dari enam tahun, sebagai bahan bangunan.
Sebagai tanaman peneduh, tanaman lain seperti pisang dan jagung, saat musim kemarau pohon tersebut menjadi pilihan bagi petani sekaligus peternak untuk mencari pakan alternatif.
Manfaat melestarikan pohon tersebut, juga diakui oleh warga lain, Sarji (50), yang tetap mempertahankan beberapa jenis pohon di kawasan register 1  Way Pisang.
Memiliki lahan garapan di kawasan tanah kehutanan, kata Sarji, membuat sebagian warga enggan menanam pohon dengan umur panjang. Pasalnya, warga khawatir sewaktu-waktu tanah kehutanan tersebut akan diambil kembali oleh pemiliknua. Ia pun memilih untuk menanam pohon yang bisa cepat dipanen, yakni jenis jabon dan sengon serta bambu.
“Memiliki lahan garapan di kawasan register tetap memberi sumber penghasilan bagi kami, namun upaya pelestarian juga tetap kami pertahankan, terutama di sekitar sungai Way Pisang,” beber Sarji.
Sarji mengaku masih mempertahankan sejumlah pohon jenis jati dan sengon di sepanjang tepi jalan, dan lahan garapan ditanami pohon karet. Pada lahan di dekat DAS Way Pisang, berbagai jenis tanaman seperti bambu, pinang, waru gunung, juga masih dipertahankan.
Sarji mengaku menanam ratusan pohon jati putih, karena memiliki fungsi ganda, sebagai tanaman penahan longsor, sumber bahan bangunan serta sumber pakan ternak kambing saat kemarau.
Areal lahan penanaman sengon juga dimanfaatkan warga untuk menggembalakan kambing, karena rumput masih tumbuh selama kemarau akibat naungan pohon sengon.
Menurut Sarji, upaya pelestarian pohon serta tanaman multimanfaat masih belum banyak dilakukan warga. Sebab, selama ini semua jenis bibit tanaman tersebut mudah diperoleh dan difasilitasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS) di persemaian permanen Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang.
Fasilitas tersebut berupa penyediaan bibit secara gratis, satu hektare 1.000 bibit jenis multi purposes tree species (MPTS). Sebelum ada program penyediaan bibit gratis tersebut, program KLHK juga diberikan melalui kebun bibit rakyat (KBR).
“Penyediaan bibit tentunya sudah difasilitasi, namun sebagian masyarakat terkendala tidak memiliki lahan luas, maka dilakukan penanaman secara tumpangsari,” beber Sarji.
Pohon yang ditanam sebagian berada di kawasan register 1 Way Pisang bisa dipanen sebagai bahan bangunan sebelum usia tujuh tahun. Jenis pohon sengon, jabon dan gmelina, kerap dibeli dengan sistem borongan dan kubikasi, mulai dari harga Rp500 ribu hingga Rp1 juta per kubik.
Selain nilai ekonomis, keberadaan pohon yang ditanam petani membuat lahan terjaga dari bahaya erosi, dan sumber air masih terjaga di wilayah DAS Way Pisang serta sejumlah embung.
Lihat juga...