Perlu Upaya Ekstra Wujudkan DKI Jadi Barometer Wisata Halal Dunia

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Mewujudkan DKI Jakarta menjadi barometer wisata halal di dunia perlu adanya pemahaman kepada para pelaku wisata. Hal tersebut ditujukan agar semua pihak mempunyai persepsi yang benar.

“Sosialisasi, ada pemahaman yang sama, seperti apa wisata halal itu. Sehingga mereka punya persepsi yang benar,” kata Director of Sharia Complaince Sofyan Hospitality, Hafizuddin Ahmad kepada Cendana News di Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Director of Sharia Complaince Sofyan Hospitality, Hafizuddin Ahmad. Foto : Sri Sugiarti

Selain itu, perlu adanya pembenahan sarana dan prasarana objek pilihan, seperti Kota Tua, Situ Babakan, Monas, dan Kepulauan Seribu. Tidak ketinggalan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang dimungkinkan menjadi area wisata halal yang sarat budaya nusantara.

Ia mencontohkan, outlet atau restoran di TMII perlu diberikan wawasan halal terkait sertifikasi. Kemudian untuk fasilitas ibadah, sangat diutamakan.

“Di TMII sarana ibadah sangat banyak, karena hampir rata-rata di setiap anjungan daerah ada mushola. Di TMII juga hadir masjid besar seperti Masjid Pangeran Diponegoro dan Masjid Agung At Tin,” tambahnya.

Hanya saja, kata dia, mungkin perlu diperhitungkan adalah jarak, agar memudahkan pengunjung untuk mengaksesnya.

“Saya melihat sebagian besar anjungan di TMII ada fasilitas shalatnya. Tinggal kelayakan fasilitas dan toiletnya,” ujarnya.

Kalau semua secara fisik sudah memenuhi, tinggal masalah promosi pengelola wisata untuk menarik wisatawan muslim berkunjung.

Ia mengaku dirinya pernah bertemu dengan wisatawan muslim dari Timur Tengah di Ancol yang ingin berkunjung ke TMII. Uniknya, kata Ahnad, mereka mendapatkan informasi dari situs Timur Tengah yang berbahasa Arab.

“Nah, alangkah baiknya juga di website TMII itu ada juga fasilitas yang berbahasa Arab. Begitu juga dengan website seperti Kota Tua, Situ Babakan dan lainnya,” tukasnya.

Dia menegaskan, bahwa wisatawan muslim sangat mementingkan adanya fasilitas bagi mereka untuk menjalankan ibadah di tempat wisata.

“Wisatawan muslim itu ingin selalu mendapatkan tempat yang nyaman. Mereka tidak mau mengorbankan keimanan saat rekreasi atau wisata,” tutupnya.

Lihat juga...