Penyembelihan Boneka, Puncaki Upacara Adat Saparan Bekakak
Editor: Mahadeva WS
YOGYAKARTA – Ribuan masyarakat, memenuhi jalan Jogja-Wates, tepatnya di Ambarketawang, Gamping, Sleman, DI. Yogyakarta, Jumat (26/10/2018) sore. Mereka berdesak-desakan, mengikuti upacara adat Saparan Bekakak, yang dipusatkan di situs Gunung Gamping.
Bau dupa dibakar, menyeruak selama prosesi puncak upacara digelar. Sepasang boneka pengantin, yang terbuat dari ketan dan air gula merah, yang biasa disebut bekakak, disembelih di situs Gunung Gamping. Bagian tubuh boneka kemudian dipisah-pisah dan dibagikan kepada warga. Bersamaan dengan prosesi penyembelihan, isi gunungan yang turut di arak mulai diperebutkan oleh warga yang hadir.
Sebelum prosesi puncak, sepasang bekakak terlebih dahulu diarak keliling desa. Ratusan bregodo atau prajurit, dengan atribut lengkap, mengawal iring-iringan. Tak ketinggalan sejumlah gunungan, serta ogoh-ogoh, yang menjadi ciri khas upacara adat bekakak, juga ikut diarak. Rombongan tersebut menjadi tontonan ribuan warga yang memadati sepanjang rute kirab.

“Upacara adat Saparan Bekakak digelar untuk memperingati jasa besar Ki Wirosuto dan isterinya, sepasang abdi dalem pengikut setia Sultan HB I. Keduanya diketahui telah berkorban, membantu proses pembangunan Kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Untuk mengenang jasa beliau, maka diadakan upacara adat saparan bekakak ini,” ujar Camat Gamping, Samsul Bakri, usai puncak acara penyembelihan bekakak.
Samsul menyebut, upacara adat Saparan Bekakak terus berjalan, mengikuti perubahan zaman. Tidak sekedar menjadi kegiatan tradisi budaya, Saparan Bekakak juga telah berkembang menjadi sarana pendidikan sejarah, sekaligus sarana hiburan dan pariwisata bagi masyarakat. “Tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar warga masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan guyup dan rukunnya warga, mereka bersama-sama mengikuti dan menyaksikan acara ini,” tambahnya.
Samsul menambahkan, kekuatan bangsa Indonesia terletak pada keberagaman adat dan budaya, yang bisa tumbuh menjadi satu. Hal itu akan bisa terbangun, ketika masing-masing individu maupun kelompok, bisa saling menghargai satu sama lain.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, Aji Wulantoro, menyebut, tradisi Saparan Bekakak merupakan salah satu warisan budaya tak benda asal Gamping, Sleman. Tradisi ini mengandung begitu banyak nilai dan makna, salah satunya adalah kesetiaan dan sikap rela berkorban.
Pelajaran tersebut dicontohkan oleh Ki Wirosuto dan Istrinya, sebagai abdi dalem Sultan HB I. “Sebagai masyarakat yang berbudaya, kita harus bisa menghargai setiap hasil kebudayaan, terlebih kebudayaan kita sendiri. Karena ini merupakan tradisi yang telah diwariskan para leluhur atau nenek moyang kita. Budaya merupakan olah cipta rasa karsa manusia. Sehingga harus dibedakan apakah ini produk budaya atau produk keagamaan,” ujarnya.