Ular Sering Jadi Simbol Penting, pada Keris Maknanya Begini

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA, Cendana News – Ular ternyata memiliki sejarah panjang dalam peradaban bangsa Nusantara.

Ular bahkan memiliki posisi cukup penting dalam tatanan simbol sosial masyarakat kala itu.

Salah satunya terlihat pada ular dalam rupa bentuk hiasan keris yang merupakan senjata pusaka bangsa Jawa.

“Hiasan bentuk ular sudah ada dalam keris sejak era Majapahit. Contohnya, Keris Nogososro,” ujar salah seorang pemerhati sekaligus kolektor keris, Wisben Antoro.

Wisben mengatakan hal itu dalam acara diskusi makna simbol ular pada keris, yang digelar Komunitas Sahabat Ular (Sahular) di Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa (26/7/2022) malam.

Dia menjelaskan, Keris Nogososro merupakan keris sakti dan terkenal  karena dibuat atas perintah Raja Majapahit, Prabu Brawijaya.

“Ular naga ini merupakan perlambang perlindungan atau kekuasaan. Sehingga tidak sembarang orang bisa memiliki Keris Nogososro,” kata Wisben.

Menurut Wisben, penggunaan ular sebagai simbol nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat Jawa teradopsi dari budaya Hindu.

Seperti halnya penggunaan simbol ular naga dalam peradaban bangsa Tionghoa.

“Sebenarnya ada banyak jenis dan macam simbol ular dalam keris, masing-masing punya filosofi sendiri,” katanya.

Khusus pada Keris Nogososro, pahatan bentuk kepala ular naga yang menganga tampak pada bagian gandik.

Selain itu juga terdapat 1000 sisik pada bagian badan hingga ekor atau ujung keris.

“Makna lain ular naga pada keris ini adalah sikap seorang pemimpin atau raja, yakni sabda pandita ratu’, bahwa titah seorang raja tidak bisa berubah,” imbuhnya.

Sementara soal mitos yang menyebutkan keris memiliki daya magis tertentu, Wisben memiliki penjelasan ilmiahnya.

Dia mengatakan, keris biasa terbuat dari gabungan tiga bahan logam, yakni besi, nikel, dan baja.

Ketiga bahan tersebut jika bergabung akan menghasilkan sebuah radiasi atau medan magnet tertentu.

Keris di zaman Majapahit bahkan memiliki kekuatan lebih karena bukan terbuat dengan campuran nikel, namun dari logam meteorit.

“Sehingga daya radiasi atau gelombang medan magnetnya lebih besar,” ungkap Wisben.

Atas dasar itu, Wisben mengatakan tak sedikit orang Jawa seperti seorang dalang akan menempatkan keris pusakanya di bagian belakang punggung.

Sementara seorang penabuh akan terus memukulkan gamelan, di belakangnya dengan jarak dua meter.

Wisben mengatakan, tabuhan gender gamelan itu akan menstimulasi gelombang elektromagnetik pada keris si dalang.

“Sehingga akan memacu detak jantung si dalang menjadi stabil sepanjang pagelaran wayang,” katanya.

Bahkan, menurut mitos salah satu pusaka ampuh milik Ki Ageng Mangir, yakni Tombak Baruklinting, juga dari bahan campuran meteor sehingga memiliki kesaktian luar biasa.

Karenanya jika tombak itu mengarah ke tembok, lalu baca doa atau mantra sebagai stimulus gelombang, tembok itu bisa jebol.

“Itu menurut saya karena pengaruh besarnya gelombang energi,” pungkasnya.

Lihat juga...