Korban Gempa Sulteng Masih Butuh Bantuan

Editor: Mahadeva WS

PALU – Bencana gempa dan tsunami di Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, masih meninggalkan trauma. Warga memilih untuk tidur di tenda tenda darurat, seperti yang dilakukan oleh warga Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Nita (40), warga Desa Limboro mengaku, Dia dan para tetangga memilih menginap di tenda, karena masih mengalami ketakutan. Gempa berkekuatan 7,4 Scala Richter (SR) membuatnya masih trauma. Rumah yang dindingnya terbuat dari batako, mengalami kerusakan dan hingga kini belum diperbaiki.

Empat orang anggota keluarga Nita, mendirikan tenda, di dekat gardu, sebagai lokasi bermalam. Gempa susulan, adalah salah satu yang paling ditakutkan ketika berada di dalam rumah yang masih rusak. “Saya hanya berani berada di rumah saat siang hari, karena malam hari khawatir ada gempa susulan seperti kemarin, tenda yang kami buat juga disediakan secara mandiri,” terang Nita saat ditemui Cendana News, Rabu (24/10/2018).

Nita dan keluarga, mendapatkan bantuan berupa mie instan, beras serta kebutuhan pokok lainnya. Bantuan tersebut, diperoleh dari posko induk, yang disalurkan oleh pemerintah desa. Namun hingga kini, bantuan lain belum diperoleh. Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah warga terdampak bencana, yang berada tepat di jalan poros Mamuju-Palu. Sejumlah bantuan yang diterima Nita, dua pekan sebelumnya, sudah habis untuk kebutuhan sehari hari.

Sejumlah keluarga di Desa Limboro,Kecamatan Banawa Tengah masih bertahan di tenda akibat rumah belum diperbaiki [Foto: Henk Widi]
Nita, yang memiliki dua anak dan salah satunya balita, menyebut, kebutuhan paling pokok saat ini adalah perlengkapan anak anak, beras, susu dan popok. Selama dua pekan mendapatkan bantuan mie, membuatnya harus mulai mengurangi konsumsi mie. Tetapi saat ini, suaminya belum bisa bekerja karena tempat kerjanya di Donggala rusak.

Sementara itu, warga terdampak bencana tanah bergerak (likuefaksi) di Kelurahan Petobo, Kabupaten Sigi, masih mengungsi di tenda-tenda darurat, di Kecamatan Kawatuna. Irman (30), salah satu warga menyebut, Dia tidak bisa kembali ke rumahnya, yang sudah terbawa oleh fenomena likuefaksi. Tak hanya rumah, sejumlah anggota keluarga juga hilang dan belum diketahui rimbanya.

Irman bisa menemukan rumahnya yang hancur karena terdampak likuefaksi. Hanya saja lokasinya sudah bergeser dengan jarak sekira 300 meter dari lokasi awal. Salah satu kebutuhan penting bagi pengungsi adalah, air serta fasilitas sanitasi. Kebutuhan air bersih untuk mandi, mencuci dan minum, disediakan oleh PDAM Kawatuna. “Saya tinggal di tenda yang disediakan oleh Australia Aid, bersama dengan warga lain dari Kelurahan Petobo dalam satu tempat agar distribusi bantuan lebih mudah,” beber Irman.

Pengungsi lain, Rusli (40), menyebut, sebagian warga Kelurahan Petobo yang tinggal di pengungsian masih kerap mendatangi wilayah yang terkena likuefaksi. Jarak lokasi pengungsian dengan perumahan yang bergeser, sekira dua kilometer. Beberapa kali, Rusli masih mendatangi rumahnya yang hancur, untuk mencari barang barang berharga. Meski saat ini Dia memilih ikhlas, kehilangan semua barang yang ada di dalam rumah.

Rencananya, Kamis (25/10/2018), pengungsi di Petobo akan mendapatkan bantuan dari ibu Titiek Soeharto, selaku Bendahara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK). Bantuan yang akan diberikan berupa beras, kebutuhan anak anak dan wanita. Bantuan tersebut akan diberikan melalui YDGRK, Damandiri, Dharmais dan DAKAB, untuk meringankan beban para korban bencana alam gempa bumi di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Lihat juga...