IRT di Sleman Raup Untung dari Bisnis Bawang Hitam

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Siapa bilang menggeluti usaha skala rumahan tak bisa menghasilkan banyak keuntungan? Seorang ibu rumah tangga (IRT) di Dusun Karangmojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, membuktikan mampu memperoleh keuntungan hingga puluhan juta rupiah setiap bulan, dari bisnis sederhana yang dimilikinya. 
Adalah Amilatul Fadhilah, sosok ibu rumah tangga tersebut. Ia merintis usaha produksi obat herbal Bawang Hitam Tunggal (Bahitung) atau biasa juga disebut Black Garlic. Dalam waktu relatif singkat, yakni beberapa bulan saja, ia sudah mampu memasarkan produknya ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, hingga ekspor ke luar negeri, seperti Malaysia dan Taiwan.
“Awalnya, bapak mertua saya mengalami sakit kolesterol dan asam urat. Setelah diobati dengan bawang hitam, ternyata langsung sembuh. Melihat khasiat luar biasa bawang hitam itu, akhirnya saya berpikir untuk memproduksi dan menjualnya sebagai obat herbal,” ujarnya, Kamis (25/10/2018).
Bawang Hitam Tunggal -Foto: Jatmika H Kusmargana
Bawang putih tunggal atau juga biasa disebut bawang lanang, sejak lama memang telah dikenal di berbagai belahan dunia sebagai obat herbal tradisional yang memiliki khasiat luar biasa. Sehingga bawang hitam kerap digunakan untuk obat kesehatan, serta mengatasi berbagai macam penyakit seperti batuk, sesak napas, kolesterol, stroke, hipertensi, hingga tumor dan kanker.
“Disebut bawang hitam, karena memang warnanya hitam. Ini merupakan hasil fermentasi dari bawang putih tunggal dengan cara dipanaskan,” ujarnya.
Memanfaatkan salah satu ruangan berukuran 4 x 6 meter di rumahnya, wanita yang akrab disapa Mila itu, memproduksi obat herbal bawang hitam. Prosesnya pun terbilang sangat mudah.
Bawang putih tunggal yang telah disortir tinggal difermentasi dengan cara dimasukkan dalam pemanas, seperti magic com atau rice coocer selama kurang lebih 7-9 hari.
“Selama proses pemanasan itu, kita tinggal rutin membolak-balikkan saja. Minimal dua hari sekali, agar pemanasan bisa rata. Setelah sembilan hari, bawang baru diangkat, didinginkan dan dikemas,” katanya.
Mendapatkan pasokan bawang putih tunggal langsung dari petani di Jawa Timur, Mila yang awalnya hanya memproduksi satu kilogram bawang, kini mengaku telah mengolah sekitar dua kwintal bawang setiap bulannya. Dari jumlah itu, ia pun bisa memproduksi dan menjual sekitar 200 toples lebih bawang hitam ukuran 250 gram.
“Bawang hitam tunggal ini langsung bisa dikonsumsi. Rasanya manis dan empuk. Satu toples biasa saya jual Rp100 ribu untuk distributor, dan Rp150 ribu untuk agen,” ungkapnya.
Melakukan proses pemasaran sepenuhnya secara online, Mila mengaku telah memiliki pelanggan tetap di berbagai daerah di Indonesia. Seperti Aceh, Medan, Bali, hingga Papua. Terakhir, ia bahkan juga memasarkan produknya hingga ke luar negeri, seperti Taiwan dan Malaysia.
“Permintaan pasar terhadap produk ini masih sangat tinggi. Permintaan sangat banyak. Setiap hari kita selalu kirim. Karena memang selain terbukti mujarab, obat herbal semacam ini memiliki keunggulan dibandingkan obat biasa. Yakni, tidak memiliki efek samping sama sekali,” ujarnya.
Lihat juga...