Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Barat Lampung, Berkurang

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kondisi cuaca yang kurang bersahabat dalam dua pekan terakhir, memicu angin kencang dan tingginya gelombang air laut di wilayah perairan Lampung Selatan. Imbasnya, nelayan di wilayah pesisir Barat Lampung Selatan mengalami pengurangan hasil tangkapan. Sejumlah pedagang ikan pun menyebut, dampak cuaca kurang bersahabat berimbas pula pada harga jual ikan yang mengalami kenaikan.
Yuli, salah satu pedagang ikan di Pasar Ikan Higienis Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Kalianda, menyebut, kenaikan ikan kerap terjadi saat kondisi cuaca buruk. Penyebabnya, antara lain karena ikan yang dijual saat proses lelang dibeli oleh puluhan pedagang ikan (pelele) yang berjualan di pasar ikan higienis, berjualan keliling dengan motor, serta pemilik usaha kuliner warung, restoran.
Proses pelelangan ikan dilakukan saat pagi hari dan sore menyesuaikan nelayan yang mendarat.
“Sejak dari proses pelelangan, semua jenis ikan mengalami kenaikan, sehingga pedagang pengecer juga menaikkan harga ikan. Faktor cuaca sudah dimaklumi oleh masyarakat,” terang Yuli, Senin (29/10/2018)
Menurutnya, kondisi tersebut bisa berlangsung sepekan, bahkan lebih. Sejumlah ikan yang dijual disebutnya mengalami kenaikan harga berkisar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, tergantung jenis ikan.
Ikan laut yang kerap ditangkap nelayan di wilayah perairan Barat Lampung, kata Yuli, diantaranya jenis ikan Teri, Tongkol, Tengkurungan, Kurisi, Kacangan, Simba, Kuniran dan sebagian berupa cumi dan udang laut.
Yuli, salah satu pedagang ikan di pasar ikan higienis Kalianda -Foto: Henk Widi
Jenis ikan teri yang biasanya dibeli dari nelayan seharga Rp180.000 per cekeng, dibeli seharga Rp190.000 berisi sebanyak 10 kilogram ikan teri jengki. Jenis ikan tongkol, semula Rp20.000, naik menjadi Rp23.000 per kilogram, ikan tengkurungan semula Rp15.000, naik menjadi Rp20.000 per kilogram.
Ikan kacangan semula Rp18.000, naik menjadi Rp23.000, ikan simba semula Rp35.000, naik menjadi Rp44.000 per kilogram. Kuniran, semula Rp25.000 menjadi Rp30.000 dan jenis cumi, semula Rp30.000 menjadi Rp35.000, dan udang Rp40.000 menjadi Rp50.000 per kilogram.
Yuli juga menyebut, saat ikan sulit diperoleh nelayan dari wilayah perairan Barat Lampung Selatan, sejumlah pedagang ikan mendatangkan ikan dari pantai Timur.
Beberapa tempat pendaratan ikan yang kerap memasok ikan laut, di antaranya dari PPI Labuhan Maringgai Lampung Timur, PPI Ketapang serta PPI Muara Piluk Bakauheni. Berbagai jenis ikan tersebut kerap masih diperoleh di perairan Timur, ketika angin melanda wilayah perairan pantai Barat.
Penjual ikan, katanya, selain menjual ikan laut juga menjual ikan air tawar saat harga ikan laut naik. Antara lain, lele, ikan mas, nila serta gabus. Pilihan ikan air tawar tersebut juga masih disertai dengan jenis kepiting, rajungan serta kerang.
Semua jenis ikan selain hasil tangkapan nelayan, masih cukup stabil. Belum mengalami kenaikan. Sebab, sebagian ikan diperoleh dari para pembudidaya ikan di wilayah Lampung Selatan.
Hasan, salah satu nelayan di pesisir Barat Lampung Selatan, menyebut kondisi cuaca kurang bersahabat didominasi angin kencang dan gelombang tinggi. Bagi pemilik kapal penangkap ikan dengan ukuran besar, masih berani melakukan aktivitas.
Namun, sejumlah nelayan yang memiliki kapal ukuran kecil terpaksa berhenti melaut. Pemilik bagan apung serta keramba jaring apung, bahkan mulai terpaksa menepikan peralatan menghindari kerusakan dampak cuaca buruk.
“Antisipasi yang dilakukan nelayan tidak melaut, karena kondisi cuaca kurang bersahabat sehingga pasokan ikan berkurang,” beber Hasan.
Sejumlah nelayan yang memiliki kapal penangkap ikan berukuran kecil di sekitar dermaga Bom Kalianda, memilih beristirahat dan sebagian memperbaiki perahu. Nelayan bagan congkel, bagan apung serta nelayan rawe dasar, akan kembali melakukan aktivitas setelah kondisi cuaca cukup baik.
Pertimbangan faktor keselamatan menjadi alasan nelayan memilih istirahat melaut dalam kondisi cuaca tidak bersahabat.
Lihat juga...