Hadapi Perubahan, Universitas Harus Adaptif dan Inovatif
Editor: Mahadeva WS
YOGYAKARTA – Setiap Perguruan Tinggi (PT), harus mampu menjadi lembaga pendidikan yang adaptif dan inovatif, menghadapi perubahan. Hal itu mengikuti proses perkembangan revolusi industri 4.0.
Jika PT resisten terhadap perubahan, dipastikan keberadaanya akan tertinggal dengan universitas lain. Bahkan hanya akan terjebak pada romantisme masa lalu. “Ahli pendidikan meramalkan, kita akan mengalami zaman matinya universitas, karena kampus tidak menarik lagi untuk mendapatkan kompetensi tertentu, mereka bisa dapat tutorial dari internet seperti youtube, misalnya. Lalu perusahaan besar tidak lagi memandang lulusan dari mana, tapi dari kompeten atau tidak,” kata Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM, Prof Dr Ir Djagal Wiseso Marseno, dalam Seminar Tech Day di Perpustakaan, Sekolah Vokasi UGM, kamis (25/10/2018).
Menurut Djagal, UGM sebagai salah satu universitas terkemuka di Indonesia, mau tidak mau, harus mengantisipasi apa yang telah diprediksikan tersebut. Dan menurutnya, sebuah universitas, juga perlu memandang pentingnya pendidikan keterampilan, untuk meningkatkan kompetensi lulusannya.
“Kita mengapresiasi apa yang dilakukan Sekolah Vokasi UGM, yang telah bekerja sama dengan Huawei, untuk meningktatkan keterampilan mahasiswa. Karena bagaimanapun keterampilan tidak kalah penting dengan keilmuan. Sudah banyak negara barat beralih ke jalur keterampilan,” tandasnya.
Menurutnya, PT harus mampu bergandengan tangan dengan industri, untuk mengembangkan keterampilan para mahasiswanya. PT tidak bisa berdiri sendiri, sebab tantangannya sangat berat. “Apa yang dilakukan sekolah vokasi dan Huawei sangat diperluka di era revolusi industri 4.0,” jelasnya.
Wakil Presiden Huawei, Yuan Ming, mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk terus melanjutkan kerja sama dengan UGM. Perusahaan asal Cina yang berdiri 18 tahun lalu tersebut, mengembangkan produksi smartphone, infrastruktur jaringan hingga layanan big data.