Grup Percakapan Asusila Kalangan Pelajar di Bekasi Terbongkar
BEKASI – Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menemukan tindak asusila melalui grup aplikasi percakapan whatsapp (WA), yang beranggotakan siswa satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Cikarang Selatan.
Selain tindak asusila, di grup yang berisikan 24 siswa dan siswi itu, para anggota saling berbagi video porno. Bahkan ada percakapan yang berisi ajakan untuk berhubungan badan. “Ini ketahuannya saat salah satu anggota grup kena razia oleh guru, lalu diambil telepon selulernya. Awalnya anggota grup ini tidak mau membuka isi ponsel itu, tapi setelah dipaksa, akhirnya dibuka dan terbongkar itu grup,” kata Komisioner KPAD Kabupaten Bekasi, Muhammad Rozak, Kamis (4/10/2018).
Rozak menjelaskan, grup bernama All Stars tersebut, berisi para siswa dan siswi kelas IX dari berbagai jurusan di salah satu SMP di Cikarang Selatan. “Ditemukan ada 42 video porno di grup WA itu. Kemudian ada ajakan mesum. Ajakan itu dikuatkan saat sang guru menelusuri lebih jauh dan ditemukan ada obrolan pribadi via WA yang mengajak berbuat mesum, siswa dan siswi yang masih satu sekolah,” katanya lagi.
Selain hal yang berbau mesum, didapati pula percakapan ajakan untuk melakukan tawuran. Ada juga foto siswa yang memegang senjata tajam di dekat sekolah. “Dari hasil ini, tiga siswa terpaksa dikeluarkan oleh sekolah karena dinilai sebagai provokator sekaligus memang sering berbuat onar. Sedangkan sisanya berada dalam pengawasan sekolah,” tambahnya.
Rozak menambahkan, temuan tersebut menjadi salah satu fakta yang cukup menggegerkan, bagi kondisi pergaulan anak. Lebih dari itu, tren anak berbuat asusila meningkat. Saat ini, anak-anak tidak lagi sekadar menonton video porno, namun berusaha mempraktikkannya.
“Trennya memang demikian, tren yang mengkhawatirkan. Kalau sebelumnya banyak video porno yang bocor hingga ditonton anak-anak, sekarang trennya beda. Anak-anak tidak lagi menonton, tapi melakukannya bersama teman-temannya,” tandasnya.
Selain di Cikarang Selatan, Rozak mengaku temuan serupa juga didapati di kecamatan lain. “Di Tambun itu ada temuan sekelompok anak-anak remaja melakukan tindak asusila, mesum, secara bersama-sama ini. Kini kasusnya tengah kami tangani,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan KPAD, persoalan ini terjadi lantaran minimnya perhatian orang tua. Wujud nyatanya, tidak ada pengawasan orang tua dalam penggunaan telepon seluler di kalangan pelajar.
“Di hampir seluruh kasus, terjadi lantaran tidak ada pengawasan dari orang tua. Ponsel yang digenggam anak-anak itu dikunci kemudian orang tua tidak bisa melihat isinya. Ironisnya karena tahu dikunci, orang tua tidak mau lagi mengecek isi ponsel, padahal semuanya ada di situ. Ini kunci kenapa memang pengawasan orang tua itu minim. Ini konkret karena memang benar terjadi,” pungkasnya. (Ant)