Geliat Desa Mandiri, Berdayakan Potensi Warga dan Alam
Editor: Makmun Hidayat
YOGYAKARTA — Keberdaan desa mandiri dan berdaya semakin banyak bermunculan di Yogyakarta. Memanfaatkan potensi alam yang ada, desa-desa ini tumbuh dengan berbagai kegiatan yang bertujuan mensejahterakan seluruh warganya.
Salah satunya adalah Dusun Pendulan, Desa Sumberagung, Moyudan, Sleman. Desa terpencil yang terletak di ujung barat kabupaten Sleman ini memiliki potensi luar biasa. Selain memiliki tanah yang luas dan subur, Dusun Pendulan juga memiliki sumber air melimpah sepanjang tahun.
Potensi itulah yang dimanfaatkan seluruh warga untuk mencapai ketahanan dan kemandirian pangan di dusun mereka. Dari sekitar 100 kepala keluarga yang ada di dusun ini, mayoritas warga memiki usaha perikanan.
Memanfaatkan kolam tanah di sekitar pekarangan rumah, mereka memelihara berbagai jenis ikan mulai dari gurami, patin hingga lele. Selain dikonsumsi sendiri, saat panen ikan juga biasa mereka jual sebagai tabungan keluarga.
Dimotori Kelompok Tani Wanita, warga juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran di setiap perkarangan rumah mereka. Sebut saja cabai, tomat, sawi, kobis, kol, selederi, dan berbagai jenis sayuran lainnya, nampak tumbuh subur di setiap pekarangan rumah maupun gang-gang dusun.
Tak hanya itu, beberapa tahun terakhir, warga juga mulai menggiatkan penanaman buah-buahan kualitas unggul yang bernilai jual tinggi. Seperti pisang, kelengkeng kristal, alpukat mentega, hingga duren.
“Setiap warga juga kita dorong untuk memelihara ternak, seperti ayam, kambing hingga sapi. Termasuk mengelola sampah melalui bank sampah. Ini semua kita lakukan untuk menambah penghasilan warga, sehingga kesejahteraan warga semakin meningkat,” ujar Dukuh Pendulan, Wagiharto, Rabu (17/10/2018).
Salah seorang warga Dusun Pendulan, Agustinus Sahid, mengaku menamam berbagai jenis sayuran di lahan pekarangan rumahnya. Ia juga memiliki kolam ikan hingga ternak ayam kampung.
“Memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 600 meter, saya juga menanam kelengkeng kristal. Total ada 24 buah. Klengkeng kristal dipilih karena memiliki keunggulan yakni dagingnya tebal dan rasanya manis,” ujarnya.
Selain bisa memanfaatkan berbagai hasik perkebunan sayur dan usaha ternaknya untuk kebutuhan makan sehari-hari, Sahid juga mengaku mendapat tambahan penghasilan dari usahnya itu.
“Terakhir panen kemarin, satu pohon bisa menghasilkan setengah kwintal kelengkeng. Dengan harga jual Rp40 rb per kilo, ya bisa dihitung berapa pengasilan tambahan yang didapatkan,” ungkapnya.

Dukuh Pendulan, Sumberagung, Moyudan, Sleman, Wagiharto – Foto: Jatmika H Kusmargana
Dukuh Pendulan, Wagiharto sendiri tengah berencana untuk menggencarkan penanaman tanaman buah produktif di dusunnya. Nantinya setiap jenis tanaman buah itu akan dibuat per cluster, sehingga menjadi keunikan tersendiri bagi dusun Pendulan.
“Rencananya per RT akan dibuat blok sendiri-sendiri. Jadi misalnya RT 1 khusus menanam kelengkeng nanti RT 2 menanam jambu, begitu seterusnya,” katanya.
Kunci keberhasilan pemberdayaan warga di dusun Pendulan ini dikatakan Wagiharto adalah komitmen serta kebersamaan seluruh warga untuk memajukan dusun. Hal itu dapat berjalan jika para tokoh masyarakat mau memberikan contoh dan teladan bagi seluruh warga.
“Awalnya memang sulit, namun setelah tahu sendiri hasil dan manfaatnya, maka secara otomatis warga akan mengikuti,” pungkasnya.