Cristo Re Maumere Terapkan Pendidikan Karakter dan Disiplin
Editor: Mahadeva WS
MAUMERE – Menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi bergengsi, merupakan impian dari para pelajar di Flores, NTT. Namun kuliah di kampus yang menerapkan seleksi ketat, hingga sistim pendidikan yang penuh disiplin, banyak dihindari para pelajar di NTT.
Hal tersebut terlihat dari proses belajar mengajar di kampus Cristo Re Maumere. “Tahun ini, dari ribuan pelamar, hanya 16 calon mahasiswa yang lulus seleksi dan mengikuti perkuliahan disini,” sebut Frederikus Michael, instruktur Politeknik ATMI Surakarta, Kampus Cristo Re Maumere, Kamis (18/10/2018).
Dikatakan Michael, tes seleksi awal sampai psikotes dan wawancara di gelombamng pertama seleksi, ada 50 orang yang lulus. Namun dari tes kesehatan, hanya tiga orang yang datang, hingga akhirnya yang lolos seleksi cuma satu orang. “Disini kami cuma jenjang pendidikan D2, dan kami sudah meluluskan dua angkatan. Angkatan pertama 13 orang, angkatan kedua 10 orang, sementara angkatan ketiga tersisa lima orang dan angkatan keempat enam orang,” terangnya.
Sedikitnya jumlah lulusan, terjadi karena proses seleksi alam. Sistem pendidikan di kampus Cristo Re sangat ketat, kampus menekankan pendidikan disiplin dan karakter, dimana kejujuran menjadi sangat penting. “Kita mengajar mereka untuk hal yang baik, tapi banyak yang keras kepala. Cara mendidik dari SD sampai SMA kurang maksimal, sehingga saat diajari tentang sesuatu yang baru agak susah, terutama merubah karakter,” sebutnya.
Sistim pendidikan ini yang membuat lulusan Cristo Re, hanya sedikit. Tapi pihaknya lebih mengutamakan kualitas lulusan, dan ini dibuktikan dengan setelah diwisuda alumni kampus tersebut, langsung mendapatkan pekerjaan.

Yoseph Adrian Wohangara, putra asli Sikka, yang juga merupakan instruktur atau pengajar di Cristo Re Maumere menyebut, saat diwisuda dirinya dan orang tua kaget, selain dibacakan nama, juga dibacakan tempat kerjanya nanti. “Mungkin karena kampus ini baru, sehingga banyak yang belum mengetahuinya, apalagi biayanya tergolong mahal, setahun Rp12,5 juta. Tapi dengan mengeluarkan biaya Rp25 juta untuk dua tahun kuliah, saat tamat langsung bekerja,” tuturnya.
Masyarakat di Flores, masih berpikir buat apa kuliah mahal, tapi setelah selesai tidak dapat kerja. Apalagi di kampus Cristo Re Maumere, cuma sampai jenjang D2. Dan saat ini yang memiliki gelar S1, banyak yang tidak bekerja atau menganggur. “Setiap tahun kami juga mendapat beasiswa dari perusahaan, sehingga bisa membantu para mahasiswa. Kami mengadopsi sistem pendidikan di ATMI Solo, dimana 67 persen praktek dan 33 persen teori,” jelasnya.
Saat ini kampus Cristo Re Maumere, masih berstatus PDD (Pendidikan Di Luar Domisili). Direncanakan di 2019, akan menjadi Politeknik dengan memiliki tiga juruan, yakni Manufaktur, Otomotif dan Eko Wisata. “Dua prodi baru otomotif dan Eko Wisata, sedang dipersiapkan. Manufaktur tetap mengambil sistim pendidikan dari ATMI Solo, sementara otomotif akan mengambil sistem pendidikan dari Politeknik Manufaktur Astra,” pungkasnya.