Belajar Kearifan Lokal Suku Dayak di TMII
Editor: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Berkunjung ke Anjungan Kalimantan Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pengunjung akan melihat keunikan Rumah Adat Lamin, milik suku Dayak.
Pemandu Anjungan Kalimantan Timur TMII, Yosef Petrus menjelaskan, suku dayak dan suku Kutai merupakan penduduk asli Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang beribukota di Samarinda.
Provinsi ini memiliki luas 211.440 kilo meter persegi, suku Dayak terdiri dari Dayak Kenyah, Bahau, Tanjung, Benua, dan Modang Hidup.
Terkait Rumah Adat Lamin, yang merupakan bangunan utama Anjungan Kaltim, Yosef menjelaskan, keunikan rumah adat berbahan kayu ulin atau kayu besi, teknik menyambung kayunya tidak menggunakan paku. Melainkan hanya menggunakan bor yang kemudian dipasak, dan sebagian hanya diikat tali rotan.

Lantai rumahnya cukup tinggi, sehingga membutuhkan tangga pada pintu masu. Seperti halnya cara hidup berkelompok, kata Yosef, Rumah Adat Lamin dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Bahkan bisa mencapai 25 hingga 30 kepala keluarga di dalamnya, yang diketuai kepala suku.
“Rumah Adat Lamin memcerminkan asas gotong-royong masyarakat suku Dayak. Dalam membangun rumah ini, masyarakat berpartisipasi,” kata Yosef kepada Cendana News, Jumat (19/10/2018).
Namun, seriring perkembangan zaman, rumah adat tersebut hanya dihuni oleh sebagian kecil keluarga saja. Karena banyak suku Dayak yang sudah keluar dari hutan belantara untuk hidup membaur dengan penduduk pendatang. Yakni, seperti dari Jawa, Bugis, Batak, Madura, Sunda, Toraja, Buton dan lainnya.
“Rumah Adat Lamin ini masih ada di Desa Dayak Pampang, di Kecamatan Samarinda Utara. Desa ini merupakan destinasi wisata Kaltim yang mewakili ragam budaya komunitas suku Dayak. Kami hadir di TMII untuk mempromosikan khazanah seni budaya Kaltim,” ungkapnya.
Rumah Adat Lamin di Anjungan Kaltim TMII digunakan sebagai tempat pameran tradisi budaya setiap kabupaten. Di antaranya, sebut dia, hiasan busana raja, pakaian adat pengantin, pakaian adat tradisional, senjata mandau dan sumpitan yang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai tombak dan alat tiup.
Pada ruangan ini juga terpampang lukisan yang menggambarkan berbagai kegiatan sosial, budaya dan ekonomi di pasar terapung yang lazim ditemui di Kalimantan Timur. Yakni, sebagai daerah tujuan wisata di Pulau Kalimantan yang terkenal seperti manik-manik, kain kayu jomo dan ulap doyo.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, ornamen Rumah Adat Lamin mewakili beberapa suku dayak. Yakni, ukiran dan patung bermakna yang tersaji di bubungan atas atap rumah adat ini. Yaitu, burung enggang dan ular naga.
“Burung enggang menggambarkan ketinggian derajat manusia dan keluhuran budi suku dayak. Sedangkan ular naga adalah perlambang jiwa kepahlawan dan kekuatan suku dayak,” ungkap pria kelahiran 57 tahun ini.
Adapun ukiran gurita atau cumi-cumi jelas dia, memiliki makna semangat gotong-royong atau kerakyatan. Sedangkan topeng dan tengkorak manusia bagi suku dayak adalah melambangkan kedamaian.
Selain ukiran patung, terdapat pula ukiran dinding maupun lukisan dinding khas suku dayak yang juga memiliki makna. Di antaranya, lukisan mata yang terbuka adalah melambangkan penglihatan kebatinan suku dayak yang selalu dapat melihat setiap maksud jahat yang ditujukan kepada mereka.
Kepercayaan suku dayak setiap patung menghadap ke timur bermakna mendatangkan rejeki dan kebaikan. Karena timur adalah awal mula terbitnya matahari.
Sedangkan patung menghadap ke barat bermakna menolak bala atau kejahatan. Karena barat adalah tempat terbenamnya matahari, sehingga bumi memasuki gelapnya malam penuh misteri.
Beragam simbol baik ukiran, patung maupun lukisan dari suku dayak mempergunakan permainan warna. Ada lima warna yang mereka gunakan, yaitu kuning melambangkan kewibawaan dan merah adalah perlambang keberanian. Biru melambangkan kesetiaan, putih adalah kesucian dan hitam bermakna keteduhan.
Untuk melestarikan flora khas Kaltim, di anjungan ini juga dihiasi dengan pohon singkil. Pohon ini merupakan lambang kehidupan yang dapat digunakan sebagai obat untuk memperlancar air susu ibu.

Di halaman anjungan Kaltim juga berdiri kokoh patung sumbang lawing. Dalam budaya suku dayak, patung ini perlambang untuk menyambut pahlawan selesai perang.
Terdapat juga patung blontang, sejenis Totem yang oleh suku Dayak kuno merupakan simbol penjaga rumah rumah untuk menolak roh-roh jahat.
Tepat di belakang Rumah Adat Lamin, terdapat rumah adat Kutai, di masa Kerajaan Mulawarman. “Rumah Kutai ini adanya di pesisir pantai,” ujarnya.
Bangunan lumbung padi juga tersaji di area anjungan ini. Selain itu, terdapat pula panggung sebagai ruang pertunjukan untuk menampilkan berbagai kesenian tradisional daerah Kaltim.
Dalam pelestarian seni budaya, di anjungan ini juga terdapat sanggar Diklat Seni Anjungan Kaltim TMII. “Sanggar seni ini setiap hari Jumat pagi ada latihan tari,” ujarnya.
Adapun visi anjungan Kaltim TMII adalah sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No.28/2014, yakni terwujud pelayanan promosi dan informasi yang profesional bagi wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara menuju Kaltim 2018.
Kaltim pun berupaya menonjolkan seluruh potensi wisata dengan menggerakkan berbagai elemen yang ada demi kemajuan Kaltim secara menyeluruh.
Menurutnya, visi ini sesuai dengan filosofi suku dayak yang mengedepankan semangat kebersamaan dengan gotong-royong dalam membangun daerah.
Seluruh kabupaten dan kota di Kaltim mengusung visi tersebut. Di antaranya, Kota Samarinda, ibukota provinsi yang berbatasan langsung dengan kabupaten Kutai Kartanegara yang bisa dicapai melalui perjalanan darat, laut, dan udara. Sungai Mahakam nan indah membelah kota Samarinda, menjadi gerbang menuju pedalaman Kaltim.
Adapun obyek-obyek wisata yang ada di Samarinda adalah air terjun tanah merah, kebun raya Universitas Mulawarman Samarinda, desa budaya Pampang, telaga tenun Samarinda, dan Islamic Center Samarinda.
Selanjutnya, Kota Bontang, berawal dari sebuah perkampungan di pinggir sungai yang dipimpin oleh seorang tetua adat pada tahun 1952. Namun seiring perkembangan daerah itu, maka perlahan menjadi sebuah kota hingga sekarang.
Di era kepemimpinan tetua adat, kepemimpinan pun terbagi dua. Yakni, hal-hal menyangkut pemerintahan ditangani oleh kepala kampung dan yang menyangkut adat istiadat diatur oleh tetua adat.
Adapun obyek wisata yang ada di kota Bontang yaitu, pulau beras basah, wisata hutan mangrove, lembah hijau lestari, dan pulau gusung.
Kota Balikpapan, sebuah kota yang dikenal luas sebagai kota minyak atau Banua Patra dengan nama asli sebelumnya adalah Bilipapan atau Balikkappan.
Balikpapan, bermaskot seekor hewan bernama Beruang Madu. Kini, hewan tersebut berada di ambang kepunahan.
Balikpapan merupakan kota dengan biaya hidup termahal se-Indonesia. Adapun obyek-obyek wisata Kota Balikpapan adalah pantai Kemala, pantai Lamuru, pantai Manggar Segara Sari, penangkaran buaya Tritis, dan bukit Bangkirai.
Kabupaten Paser, merupakan wilayah yang terletak paling selatan, dengan nama awal adalah kabupaten Pasir. Potensi pariwisatanya cukup bagus sebagai penopang perekonomian daerah.
Area wisata yang menarik antara lain, telaga air panas, goa alam loyang, air terjun gerigu, goa tengkorak, pasir pantai tanjung harapan, pulau batu kapal tanjung harapan, dan taman hutan raya Lati Petangis.
Ada pun Kabupaten Penajam Paser Utara, daerah ini merupakan kabupaten termuda di provinsi Kaltim, yang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Paser. Potensi pariwisata sangat strategis sebagai pintu gerbang trans Kalimantan dan menjadi lalu lintas perdagangan antar-provinsi.
Obyek wisatanya meliputi, pantai Tanjung Jumpai, pantai Dipakai atau Nipah-nipah, hutan wisata Astari Lestari, dan penangkaran rusa.
Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), merupakan wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Barat. Ibu kota kabupaten berada di bilangan kecamatan Long Bagun, yakni julukan untuk Mahakam Ulu.
Mahulu sebagai kawasan strategis nasional berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Kabupaten pemekaran Mahakam Ulu berkomitmen dalam menjaga kearifan lokal suku dayak khususnya di Kalimantan.
Adapun obyek wisatanya adalah batu Mili, long Pahangai dan Long Tuyoq, Rukun Damai Long Bangun Ilir, Riam Panjang, Riam Udang, Riam Haloq, air terjun Ken’heq, air terjun Haloq, Datah Bilang dan Batu Majang.
Berikutnya, Kabupaten Kutai Timur dengan ibu kota kabupaten terletak di Sangatta. Kutai Timur merupakan wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai.
Daerah wisatanya tersaji taman nasional Kutai, goa Gunung Kombeng, goa Ampanas Pangadan, goa Maria, desa Miau Baru, pulau Birah-birahan, wisata tambang dan religi serta Bukit Pelangi.
Kabupaten Kutai Kartanegara, yakni kelanjutan dari Kabupaten Kutai sebelum terjadinya pemekaran wilayah pada tahun 1999. Balikpapan, Bontang, dan Samarinda adalah merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi 4 daerah, yakni Kabupaten Kutai, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Bontang.
Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki nilai sejarah tinggi bagi bangsa Indonesia. Karena jelas dia, merupakan salah satu warisan leluhur era kejayaan kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang hingga sekarang menjadi simbol abadi kebanggaan kabupaten Kutai Kartanegara di provinsi Kaltim.
Adapun obyek wisata bernilai sejarah adalah museum Mulawarman, bukit Bangkirai, dan desa Sungai Bawang.
Kabupaten Kutai Barat, secara simbolis Kabupaten ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta, dan secara operasional diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur pada tanggal 5 November 1999 di Sendawar, Kabupaten Kutai Barat.
Wilayahnya berbukit dan bergunung banyak dijumpai di bagian hulu Sungai Mahakam, terutama di kecamatan Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari. Sedangkan obyek wisatanya, yaitu danau Jempang, danau Accounting, danau Beliau, air terjun Jantur Gemuruh,
lamin adat Pepes Eheng, situs Sendawar, dan desa Tering.
Terakhir, Kabupaten Berau, merupakan kabupaten dengan ibu kota yang berada di Tanjung Redeb. Menurut sejarah Berau, raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan istrinya bernama Baddit Kurindan dengan gelar Aji Permaisuri.
Di daerah ini tersaji obyek wisata menarik yaitu pulau Derawan, pulau Sangalaki, danau Labuan Cermin, pemandian air panas dan Taman Buru Batu Putih.
Dalam pelestarian tradisi Suku Dayak, anjungan Kaltim di TMII senantiasa mempromosikan kebudayaan baik itu adat istiadat, seni tari, kerajinan tangan dan area wisata kepada pengunjung. Dengan tujuan untuk memperkenalkan bahwa Kaltim kaya akan khazanah seni budaya.
“Dengan maraknya kebudayaan modern, kita harus tetap melestarikan budaya bangsa dengan menjaga keasliannya,” pungkas Yosef.