Arisan Nggebot, Gotong Royong di Pertanian ala Warga Tanjungheran

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Cara cukup unik diterapkan oleh masyarakat di Desa Tanjungheran, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan untuk mendapatkan hasil meski tidak memiliki lahan. Mereka masih bisa bekerja menanam padi dengan sistem bagi hasil sejak masa penanaman (ceblok) hingga waktu panen (nggebot).

Memanfaatkan kelompok beranggotakan 20 orang, mereka saling bergantian dalam pemanfaatan tenaga sejak masa tanam hingga masa panen. Sebutan arisan karena dalam proses pengerjaan lahan setiap anggota dilakukan secara bergiliran dan masih menggunakan cara tradisional.

“Setiap masa tanam dan masa panen peserta arisan akan bergiliran, karena di wilayah ini, hamparan padi sangat luas. Butuh waktu satu bulan untuk melakukan kegiatan nggebot di puluhan lahan,” beber Tati, salah satu buruh tani yang tengah melakukan panen padi di areal persawahan Desa Tanjungheran kepada Cendana News, Senin (15/10/2018).

Diterangkan, sesuai dengan luasan lahan yang ada sebagian anggota akan mendapatkan bagian satu banding enam, dimana saat tujuh karung gabah diperoleh, maka satu karung menjadi hak anggota arisan.

Tati (kiri), salah satu buruh tani di Desa Tanjungheran, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan bersama kelompok arisan nggebot pada masa panen musim gadu [Foto: Henk Widi]
Pada kondisi normal, Tati bahkan mendapatkan bagi hasil hingga dua kuintal. Namun saat panen gadu, ia hanya mendapat bagian satu setengah. Hasil panen yang berkurang diakuinya ikut berdampak pada hasil panen padi yang diperoleh peserta arisan dan pemilik tanah.

Aminah (35) salah satu anggota arisan nggebot mengaku tradisi tersebut menjadi cara untuk saling membantu. Sistem giliran menanam hingga panen menjadi cara warga yang tidak memiliki lahan. Meski mengandalkan tenaga, saat panen anggota arisan tetap mendapatkan gabah dan tidak harus membeli beras.

“Melalui kelompok arisan bisa menjadi cara untuk mendapatkan gabah karena sebagian tidak memiliki sawah,” beber Aminah.

Umar Said (45), salah seorang pemilik lahan menyebutkan, Proses panen dibantu oleh kelompok arisan nggebot masih diterapkan hingga saat. Selain bisa membantu warga memperoleh gabah, penggunaan tenaga kerja dilakukan karena alat dan mesin pertanian modern belum umum digunakan di wilayah tersebut.

Lihat juga...