Tidak Punya Pabrik, Penyebab Anjloknya Harga Sawit di Sumbar
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PADANG — Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Sumatera Barat, menyebutkan, kelapa sawit di sejumlah daerah dilaporkan mengalami kondisi harga yang buruk. Padahal dari data yang dimiliki, dilokasi yang berdekatan dengan pabrik saat ini penjualan mencapai Rp1.750 per kilogramnya.
Kepala Distanhorbun Sumbar, Candra mengatakan, ada di beberapa daerah yang melaporkan harga sawit hanya Rp600 per kilogramnya.
“Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada masyarakat yang hanya menikmati hasil panen perkebunan kelapa sawitnya Rp600 per kilogram. Hal itu akibat dari tidak punya pabrik yang menampung panen, yang berdekatan dengan kawasan perkebunan tersebut,” katanya, Senin (15/10/2018).
Ia menjelaskan, daerah yang saat ini memiliki pabrik pengelolah kelapa sawit di Sumatera Barat di antaranya Kabupaten Solok Selatan dan Pasaman Barat. Sementara Kabupaten Pesisir Selatan belum memiliki.
Solok Selatan, pabrik turut bahkan menampung hasil panen dari Kabupaten Dharmasraya dan Solok. Sementera untuk Pasaman Barat, turut menampung hasil panen sawit dari Kabupaten Pasaman dan Agam.
Menurutnya, penting adanya pabrik pengelolaan itu, untuk mengurangi peran pengumpul, yang merupakan pihak yang menyebab harga anjlok.
“Jadi untuk daerah yang tidak memiliki pabrik, yang berperan adalah pengumpul. Dari proses inilah yang memungkinkan pengumpul harus memangkas harga karena butuh biaya untuk mengantarkan ke pabrik,” ujarnya.
Candra menyebutkan, pihaknya sebelumnya juga telah menjalin kerjasama dengan sejumlah pabrik untuk menampung hasil panen masyarakat. Hal inilah yang membuat perkebunan sawit yang berada di kawasan pabrik, akan menikmati harga yang bagus.
Ditambahkan, sawit yang harganya anjlok biasanya bersifat perkebunan rakyat, yang luas lahannya terbilang cukup kecil. Dalam setiap panen, berat sawitnya berkisar 400 kilogram saja.
“Sementara di pabrik itu sendiri, tidak hanya menampung hasil panen masyarakat, tetapi juga perkebunan sawit milik pabrik sendiri,” tambanya.
Selain itu, bicara luas lahan perkebunan sawit di Sumatera Barat saat ini mencapai 250 ribu haktare. Yang baru dilakukan peramajaan sekitar 17 ribu haktare.
“17 ribu haktare yang dilakukan peramajaan itu, usia perkebunannya mencapai 25 tahun lebih,” ungkapnya.