Sagubal, Makanan Tradisional Lampung Berbahan Ketan
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Berbagai makanan tradisional berbahan ketan, kerap dibuat untuk disajikan pada momen istimewa, dalam lingkungan keluarga di Lampung. Di antaranya juadah, lemper, lupis dan ketan lapis atau sagubal.
Sapta (30), warga Desa Pasuruan,Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menyebut makanan berbahan ketan yang dikenal dengan sagubal kerap disajikan pada acara khusus, terutama hari raya atau hajatan keluarga.
Menurutnya, proses pembuatan sagubal diawali dengan proses membersihkan beras ketan putih yang sudah dicuci bersih. Beras ketan sebaiknya direndam selama satu malam untuk membersihkan ketan, sekaligus membuat empuk tekstur ketan.
Selanjutnya, beras diaron dengan menggunakan santan kelapa hingga setengah matang. Setelah matang, didinginkan pada tampah atau wadah dari bambu.

Proses selanjutnya, mencetaknya dengan menggunakan sendok, potongan bambu atau cukup menggunakan tangan dengan plastik. Daun pisang yang disiapkan untuk bungkus biasanya dilayukan terlebih dahulu, memanfaatkan sinar matahari.
Menurut Sapta, daun pisang yang kerap digunakan adalah daun pisang Kepok, karena lebih mudah dibentuk dan tidak mudah robek. Pemilihan daun pisang muda dengan warna hijau segar, sekaligus menjadi daya tarik saat sagubal akan disantap.
“Ketan yang sudah matang, selanjutnya dicetak berbentuk bundar memakai bambu atau pipa, disusun berlapis dan diikat dengan ikatan bambu apus, tapi sekarang kerap menggunakan tali plastik,” terang Sapta, saat ditemui Cendana News, baru baru ini.
Penyusunan ketan yang sudah dimasak berlapis tersebut, kata Spata, menjadikan Sagubal kerap disebut sebagai ketan lapis. Setelah disusun berlapis, ketan bisa dikukus kembali hingga matang dalam waktu kurang lebih satu jam. Tanda kematangan sagubal bisa dicek dengan membuka salah satu bungkus dan mencicipi kematangannya.
Menurut Sapta, kematangan sagubal akan semakin sempurna, saat dimasak menggunakan tungku kayu, meski di era sekarang kerap menggunakan kompor gas.
Sembari menunggu matang itu, dilakukan pembuatan bumbu pelengkap berupa serundeng ikan, yang dibuat dari satu butir kelapa setengah tua yang sudah diparut, ikan giling yang biasanya menggunakan ikan tenggiri, ikan teri serta ikan parang.
Sedangkan bumbu yang digunakan, di antaranya bawang merah, bawang putih, sereh, laos, sedikit ketumbar, selanjutnya dihaluskan dengan proses menguleg atau mesin blender.
“Setelah semua bahan bumbu halus disiapkan, selanjutnya campurkan dengan kelapa parut tanpa menggunakan minyak dan disangrai,” beber Sapta.
Semua bumbu yang sudah digoreng hingga renyah dan berwarna kuning diberi tambahan gula pasir dan penyedap rasa secukupnya. Setelah semua bahan tercampur sempurna dengan rasa serundeng yang khas, selanjutnya didinginkan.
