Paradigma Pendidikan di Indonesia Alami Perubahan
Editor: Mahadeva WS
MALANG – Paradigma pendidikan pembangunan di Indonesia mengalami perubahan yang sangat mendasar. Revolusi industri 4.0, mendorong terjadinya banyak perubahan yang mendasar, mengenai pengelolan-pengelolaan lembaga di Indonesia, termasuk di dalamnya perguruan tinggi.
“Pendidikan tinggi ke depan tidak cukup dengan hanya membangun gedung yang megah. Tetapi juga harus mampu berkontribusi untuk meningkatkan Learning Innovation (inovasi pembelajaran),” ujar Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir saat Groundbreaking Gedung Kuliah Bersama proyek 4-IN-1 IsDB Universitas Negeri Malang (UM), Senin (17/9/2018).
Salah satu contoh perubahan yang sangat mendasar adalah, inovasi sistem pembelajaran. Ke depan, sistem pembelajaran mulai menggunakan online learning. Jika inovasi pembelajaran ini sudah dijalankan, maka rasio dosen dengan mahasiswa yang sekarang adalah satu berbanding 20 untuk eksakta dan satu berbanding 30 untuk ilmu sosial, dengan sistem online learning, tidak akan ada lagi batasan atau unlimeted.
“Kalau sudah menjadi unlimeted, maka kampus tidak lagi menggelar pembelajaran di dalam kelas, tapi juga di luar kelas. Waktunya juga bisa di tentukan sendiri. Sehingga pembelajaran bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja,” tandasnya.
Jika learning innovation centre di UM selesai di bangun, kampus tersebut bisa menjadi leader dalam learning innovation. Hal ini menjadi sangat penting, karena harus diikuti upaya memodernisasi sistem pendidikan yang ada di Indonesia. “Dengan learning innovation, rakyat Indonesia di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) bisa terselesaikan dengan baik. Anak-anak diperbatasan bisa kuliah dengan baik kalau kita mempunyai learning innovation yang baik,” ujarnya.
Selain itu, perguruan tinggi juga harus bisa menjaga tata kelola dengan baik, dimana di dalamnya terdapat beberapa komponen yakni transparansi, kejujuran dan bisa dipertanggungjawabkan.
Universitas Negeri Malang (UM) menjadi salah satu dari empat perguruan tinggi yang mendapatkan pendanaan Project 4 in 1, dari the Islamic Development Bank (IsDB), senilai 48,2 juta USD. Dalam Konsorsium 4 in 1 tersebut, Universitas Negeri Malang difokuskan untuk menjadi Pusat Unggulan (Center of Excelence) bidang Learning Innovation.
Sementara itu tiga perguruan tinggi lainnya yang masuk dalam Project 4 in 1 IsDB adalah Universitas Jember yang terfokus pada CoE untuk Bio Technology, Universitas Mulawarman akan membangun CoE untuk Tropical Studies dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di fokuskan pada CoE untuk Food Security.
“Setiap perguruan tinggi ini memiliki Center of Excellence (CoE) dengan tema spesifik yang harus dikembangkan berdasarkan kekuatan dan potensinya. Diharapkan investasi ini bisa menjadi modal sebagai upaya meningkatkan daya saing bangsa dalam memasuki era Revolusi Industri 4.0,” pungkasnya.