Lestarinya Pohon dan Bambu di DAS Way Ulu Badak
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Ratusan rumpun bambu dan pepohonan, yang sebagian berusia ratusan tahun, berjajar di tepi daerah aliran sungai (DAS) Way Ulu Badak. Rumpun bambu tersebut tumbuh alami sejak puluhan tahun silam.
Saiful, warga Dusun Merut, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut, berbagai jenis bambu tumbuh secara liar di DAS Way Ulu Badak, yang tersebar di area perbukitan Merut.
Beberapa jenis bambu, di antaranya bambu hijau (Bambusa tuldoides), bambu petung (Dendrocalamus strictur), bambu hitam/wulung (Gigantochlia atroviolacea) serta berbagai jenis pohon medang (Cinnamomum spp), serta berbagai jenis pohon palem, pinang, rotan. Berbagai tanaman tersebut sebagian sengaja dipertahankan warga, sejak kawasan Merut dibuka pertama kali menjadi perkampungan.

“Nama Merut atau Serut berasal dari sebuah pohon yang kerap tumbuh liar di kawasan ini, sehingga kampung ini masih dikenal dengan Merut dan di kawasan DAS Ulu Badak masih terjaga secara alami menyerupai hutan, karena berada di lereng perbukitan yang curam,“ terang Saiful, Rabu (19/9/2018).
Menurut Saiful, kawasan perbukitan terjal yang semula merupakan hutan alami itu sebagian dimanfaatkan warga untuk area perkebunan jagung, pisang dan kelapa. Sebagian warga, seperti Saiful dan keluarganya, juga memanfaatkan lahan untuk menanam beberapa jenis pohon sengon, jati ambon, yang bisa dipanen saat usia enam tahun sebagai bahan bangunan.
Terjaganya berbagai pohon di DAS Way Ulu Badak, membuat warga masih bisa mengakses air bersih dari sumur yang sudah berusia puluhan tahun.
Ratusan rumpun bambu hijau dan bambu hitam, kata Saiful, kerap dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Bambu tersebut kerap dibeli untuk bekisting proses pembangunan rumah, keperluan bagan nelayan, pagar kandang ayam serta proses pembangunan jalan tol.
Keberadaan ratusan rumpun bambu juga sekaligus menjaga lingkungan DAS Way Ulu Badak yang menjadi benteng terakhir kawasan perbukitan Merut. Sedangkan lokasinya yang curam menjadi pelindung berbagai jenis tanaman tersebut.
“Tanaman bambu yang ditebang akan melakukan regenerasi alami, sehingga bisa meminimalisir bahaya longsor,” beber Saiful.
Selain masih melakukan konservasi bambu, pohon dengan kearifan lokal sistem tebang pilih, warga bahkan masih mempertahankan berbagai jenis pohon langka.
Pohon jenis gondang dan pule yang ditanam, bahkan sengaja tidak ditebang karena menjadi mata air sebuah sendang (belik) yang selanjutnya dibuat menjadi sumur. Sendang di dekat DAS Way Ulu Badak itu dikenal dengan nama Sendang Mojang (Sendang Gadis), sesuai penyebutan oleh warga yang dominan bersuku Sunda.
Saiful mengatakan, Sendang Mojang yang kini menjadi sumur masih tetap menjadi sumber air, saat musim hujan dan kemarau. Ketika wilayah Bakauheni dan sekitarnya mengalami kekeringan, Sendang Mojang masih bisa menjadi sumber air bersih bagi ratusan warga. Sebagian warga mengambil air menggunakan jerigen, galon yang diangkut menggunakan motor dan mobil.
