JAKARTA – John H. McGlynn, penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika yang telah lama tinggal di Indonesia sejak 1976, melalui Yayasan Lontar yang didirikannya bersama beberapa penulis terkenal, seperti Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, dan Subagio Sastrowardoyo, terlibat dalam penerjemahan ratusan karya sastra Indonesia.
John paling berkesan pada terjemahan dari karya-karya Pramoedya Ananta Toer, terutama The Mute’s Soliloquy, yang merupakan terjemahan dari kumpulan esai dan surat-surat Pramoedya, ditambah dengan hasil wawancaranya dengan pengarang tersebut.
John H. McGlynn menyambut baik adanya Program Bantuan Dana Penerjemahan (LitRI), yang diselenggarakan oleh Komite Buku Nasional bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang tentu sangat membantu dalam menerjemahkan karya penulis Indonesia.
“Kenyataan ketersediaan penerjemahan bahasa Indonesia ke bahasa asing yang masih sedikit disebabkan minimnya honor penerjemahan,“ kata John H. McGlynn, dalam acara bincang santai tentang penerjemahan di stan Komite Buku Nasional – Indonesia Market Focus LBF 2019, Indonesia International Book Fair di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Minggu (16/9/2018).
John membeberkan, menerjemahkan sebuah buku tebal, tentu membutuhkan waktu lama, bisa setahun lebih.
“Bisa dibayangkan, bagaimana penerjemah mampu menerjemahkan dengan minimnya honor penerjemahan,“ beber peraih penghargaan Teeuw Award bersama peneliti Belanda Hedi Hinzler.
Menurut John, banyak negara yang sudah memiliki pusat penerjemahan atau lembaga pendanaan terjemahan, seperti di Belanda, Korea, Perancis, dan lain sebagainya, di mana penerbit yang menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa asing diberikan insentif dan subsidi.
“Saya menyambut baik dengan adanya Program Bantuan Dana Penerjemahan (LitRI) yang diselenggarakan oleh Komite Buku Nasional, bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tentu sangat membantu dalam menerjemahkan karya penulis Indonesia,“ tuturnya.
John berharap, lembaga pendanaan terjemahan yang didirikan oleh pemerintah tersebut akan terus berlanjut, sebagaimana Yayasan Lontar yang didirikan tetap aktif dan terus berlanjut melakukan penerjemahan sejak 1987.
John juga menekankan, penerjemahan sangat diperlukan, tapi sampai sekarang masih banyak hambatan, terutama berkaitan dengan honor penerjemahan.
“Untuk memperkenalkan Indonesia ke luar negeri, ya dengan jalan menerjemahkan karya sastra Indonesia. Kalau tidak diterjemahkan, ya sayang sekali. Dalam Yayasan Lontar, kita sudah banyak menerjemahkan karya sastra Indonesia, dengan tujuan pembaca asing mudah membaca karya Indonesia,“ paparnya.
John menyampaikan, dari dulu penerjemahan bersifat pribadi yang diusahakan oleh penulisnya sendiri, yang banyak kendala terutama dalam segi pendanaan, dan baru kemudian ia bersama para penulis Indonesia berinisiatif mendirikan Yayasan Lontar.
“Yayasan Lontar yang kami dirikan bersama para penulis Indonesia, seperti Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, dan Subagio Sastrowardoyo, sangat fokus pada cita-cita kita untuk memperkenalkan sastra Indonesia kepada dunia,“ tandasnya.