Hujan Deras, Pasokan Air Bersih Warga Kotawaringin Timur Tertunda

Ilustrasi warga mencari air bersih - Dokumentasi CDN

SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah menunda pasokan air bersih ke kawasan pesisir yang sempat dilanda kekeringan dan kesulitan air bersih karena turun hujan deras beberapa kali di daerah itu.

“Kemarin itu sudah disiapkan, namun karena terjadi hujan deras beberapa kali sehingga ditunda karena cadangan air bersih di sana kembali tersedia. Tapi kalau nanti masih dibutuhkan maka akan dikirim sesuai kebutuhan,” kata Sekretaris Daerah Pemkab Kotawaringin Timur Halikinnor di Sampit, Sabtu.

Kekeringan sempat melanda kawasan pesisir Kotawaringin Timur, khususnya Kecamatan Teluk Sampit dan Pulau Hanaut. Kondisi itu terjadi akibat hujan tidak turun lebih dari satu bulan.

Danau dan sumur yang selama ini menjadi sumber air bersih menjadi kering, sedangkan air sungai terasa asin akibat intrusi air laut yang masuk hingga alur Sungai Mentaya.

Sebagian warga, bahkan terpaksa membeli air bersih dari pedagang air yang mengantar ke desa mereka.

Kesulitan air bersih juga diduga menjadi penyebab munculnya penyakit diare yang diderita sejumlah warga. Kondisi kekeringan diperparah dengan maraknya kebakaran lahan gambut saat itu.

Pemerintah Kecamatan Teluk Sampit secara resmi meminta pemerintah kabupaten memasok air bersih untuk masyarakat. Namun, ketika air bersih akan dipersiapkan untuk dikirim dari Sampit, ternyata hujan deras turun sehingga masyarakat kembali memiliki cadangan air bersih.

“Pemerintah tidak mungkin membiarkan masyarakatnnya menderita. Jika dibutuhkan pasokan air bersih dari Sampit, pasti segera kami kirim ke sana,” ujar Halikinnor yang juga Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemkab Kotawaringin Timur.

Kotawaringin Timur pernah mengalami krisis air bersih pada 2015 akibat kemarau yang terjadi lebih dari lima bulan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di kawasan pesisir, pemerintah memasok air dari Sampit menggunakan mobil milik PDAM Tirta Mentaya Sampit dan sejumlah instansi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun H. Asan Sampit, Nur Setiawan, mengakui intensitas hujan meningkat.

Namun, dia menegaskan bahwa saat ini Kotawaringin Timur masih mengalami musim kemarau.

“Musim kemarau diperkirakan terjadi hingga awal Oktober. Untuk itu, dampak kemarau seperti kebakaran lahan masih harus tetap kita waspadai,” kata dia.

Hujan yang beberapa kali mengguyur Sampit juga membuat asap kebakaran lahan yang sempat menyelimuti Sampit menjadi hilang sehingga udara kembali terasa segar. (Ant)

Lihat juga...