Hashim: Banyak Permasalahan Bangsa yang Harus Segera Diselesaikan

Editor: Mahadeva WS

MALANG – Founder Astari group, Hashim Djojohadikusumo menilai, masih banyak permasalahan bangsa yang harus segera diselesaikan. Mulai dari masalah kesenjangan sosial, kemiskinan, kesehatan, pendidikan, hingga ketersediaan energi yang semakin menyusut. Hal tersebut disampaikannya saat memberi kuliah umum, kepada ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB).

Indonesia, saat ini mengalami tingkat kesenjangan sosial kaya dan miskin yang bisa dikatakan sangat besar. Menurut bank dunia, Indonesia berada di peringkat ke tiga terburuk di dunia dari segi kesenjangan sosial. “Dari 193 negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), saat ini Indonesia berada di peringkat ke tiga terburuk di dunia dari aspek kesenjangan,” ujarnya, Kamis (20/9/2018).

Permasalah kesenjangan, jika tidak bisa segera diselesaikan, akan memicu munculnya kecemburuan sosial. Pada akhirnya akan menyebabkan munculnya aksi radikalisme, terorisme maupun aksi-aksi pidana lainnya, yang justru akan membahayakan keutuhan bangsa.

Hal itu masih di perparah dengan banyaknya pekerja asing, yang masuk ke Indonesia, di tengah masih banyaknya masyarakat Indonesia yang menganggur dan membutuhkan pekerjaan. Padahal, mereka yang datang ke Indonesia untuk bekerja, merupakan tenaga kerja yang sebenarnya tidak memiliki keahlian.

“Jaman dulu waktu pemerintahan Presiden Soeharto, semua orang asing yang dapat pekerjaan di Indonesia, harus memiliki gelar maupun keahlian. Tapi berbeda dengan sekarang, kebanyakan dari tenaga kerja asing yang datang ke Indonesia mereka adalah tukang cuci piring, kuli, supir truk dan tidak punyak gelar atau ijazah,” tandasnya.

Hal itu, yang menjadikan kondisi ekonomi di Indonesia semakin dirasakan berat. Lebih lanjut, adik kandung Calon Presiden Prabowo Subianto tersebut menyampaikan, selain kesenjangan, Indonesia juga masih memiliki permasalahan dalam hal devisit anggaran, yang diakibatkan oleh semakin menumpuknya hutang Indonesia.

Saat ini, pemerintah masih terus melakukan kebijakan peminjaman uang, sehingga mengakibatkan Indonesia mengalami devisit anggaran Rp340 triliun. Masalah devisit anggaran tersebut, sebenarnya bisa diatasi dengan meningkatkan nilai Tax ratio yang saat ini masih berada di angka 10,4 persen. “Jika kita bisa meningkatkan nilai tax ratio dari 10,4 persen mendekati tax ratio India 20 persen maka masalah devisit anggaran akan selesai dan Indonesia akan surplus. Tidak perlu pinjam uang lagi bahkan kita bisa pinjamkan uang kepada negara lain,” terangnya.

Untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, yang pertama harus dilakukan masyarakat, mereka harus sadar, bahwa sebenarnya masih ada masalah di bangsa ini. Kendalanya, banyak masyarakat termasuk mahasiswa maupun dosen yang tidak sadar dengan adanya permasalahan tersebut. “Mahasiswa harus tahu masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Apalagi yang ada dihadapan saya ini mahasiswa jurusan administrasi publik dimana ini adalah topik-topik yang harus bisa mereka tangani. Lebih baik mereka tau sekarang daripada nanti, agar mereka generasi muda bisa menyelesaikan masalah tersebut, pungkasnya.

Lihat juga...