Upaya Penyelamatan Terus Berlangsung, Pengungsi Rohingya Tetap Rentan
JENEWA – Hampir satu juta pengungsi Rohingya, masih tetap dalam kondisi rentan, sekalipun upaya terpadu oleh Pemerintah bangladesh, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitra kesehatan, telah menyelamatkan ribuan nyawa.
“Semua upaya tersebut, telah mencegah, dan dengan cepat mengurangi wabah penyakit yang mematikan,” kata WHO, Minggu (26/8/2018).
Kedatangan hampir 700.000 pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, mulai 25 Agustus 2017, adalah salah satu arus terbesar pengungsi. Hal tersebut semakin menarik perhatian, karena terjadi dalam waktu singkat. Perempuan, anak-anak dan orang tua tiba dengan tubuh cidera, cakupan imunisasi rendah, dan terancam wabah penyakit yang mematikan.
“Upaya yang tak pernah terjadi sebelumnya telah dilancarkan tahun lalu dan dalam kondisi yang paling penuh tantangan. Penyakit mematikan seperti kolera telah dicegah, dan campak serta difteria dikendalikan dengan cepat melalui peningkatan layanan kesehatan dan kegiatan vaksinasi massal,” kata Dr. Poonam Khetrapal Singh, Direktur Regional WHO di Asia Tenggara.
Meskipun berbagai upaya telah dilancarkan, WHO masih memperingatkan adanya tantangan lain. Banjir dan tanah longsor, pada musim penghujan saat ini terus membuat orang mengungsi. Hal itu juga mempengaruhi fungsi instalasi kesehatan yang dibutuhkan para pengungsi.
Penduduk Rohingya juga enggan untuk mengakses layanan kesehatan reproduksi dan seksual, akibatnya, 70 persen kelahiran masih berlangsung di luar instalasi kesehatan. Tantangan terbesar ialah keperluan untuk lebih meningkatkan layanan guna memenuhi keperluan kesehatan yang rumit, berkembang dan jangka panjang, di tengah kekurangan dana yang bisa memutar-balikkan prestasi dan kemajuan yang sejauh ini dicapai.
WHO berusaha memperoleh 16,5 juta dolar AS untuk terus mendukung reaksi bagi Rohingya, sebagai bagian dari 113,1 juta dolar yang dimintanya dari semua mitra kesehatan berdasarkan Rencana Tanggap Gabungan sampai Maret 2019. “Kami perlu terus mendukung keperluan kesehatan buat warga yang rentan ini dan tetap waspada terhadap penyebaran penyakit. Ini adalah situasi yang masih sangat rentan,” kata Dr. Peter Salama, Wakil Direktur Jenderal WHO bagi Reaksi dan Kesiapan Darurat. (Ant)