Tingkat Kemiskinan di Sikka, Menurun

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Dalam lima tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sikka fokus memerangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran, sehingga angka kemiskinan menurun, meskipun tidak terlalu tajam.
“Tingkat kemiskinan di kabupaten Sikka turun, dari 39.500 orang miskin pada 2013, menjadi 38.300 orang pada 2018, atau mengalami penurunan sebesar 1.200,” ujar penjabat Bupati, Sikka Drs. Mekeng Flroianus, Kamis (16/8/2018) malam.
Menurutnya, angka inflasi Kabupaten Sikka juga terkendali. Pada 2013, laju inflasi kota Maumere sebesar 6,24 persen, pada 2014 menjadi 4 persen, pada 2015 menurun menjadi 3,89 dan 2016 menjadi 2,23 persen.
Yohanes A.J. Lioduden, Anggota DPRD Kabupaten Sikka. -Foto: Ebed de Rosary
“Pemerintah tetap fokus mengembangkan tiga sektor unggulan untuk menggerakkan ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan, yakni pertanian, perikanan dan pariwisata. Arah kebijakan pembangunan sektor unggulan, khususnya pertanian, adalah agroindustri,” sebutnya.
Agroindustri, jelas Florianus, adalah pintu untuk menjembatani antara pembangunan sektor pertanian dan industri, serta melakukan transformasi bahan mentah dari pertanian, termasuk transformasi produk subsistem menjadi produk akhir untuk konsumen.
“Kerja keras bersama membangun agroindustri ini pun sudah membuahkan hasil, dengan dibangunnya pusat pengolahan biji kakao menjadi cokelat Sikka dengan merek Chosik. Pemerintah berkomitmen terus mendorong pengembangan sektor pertanian ini, karena akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.
Fokus kerja telah memberikan kemajuan perkembangan ekonomi, dan terbukti dari kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB, mengalami peningkatan. Namun Florianus berharap, pengembangan sektor pariwisata di kabupaten Sikka harus terus ditingkatkan.
“Kita memiliki potensi wisata yang besar, maka ke depan perencanaan pengembangan sektor pariwisata harus secara komperhensif, bukan partial. Untuk itu, tingkat kunjungan wisatawan pada 2017, sebesar 47.228 orang, harus ditingkatkan di tahun ini,” pintanya.
Anggota DPRD Sikka, Yohanes A.J. Lioduden, menambahkan, pertumbuhan ekonomi kabupaten Sikka memang terus meningkat dari 2013 hingga 2017, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,20 persen.
“Pertumbuhan yang baik ini harus dijaga, dan jangan sampai hanya dinikmati segelintir orang, tapi bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat kabupaten Sikka, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.
Untuk itu, saran Yani Making, sapaannya, pembangunan yang dilakukan harus fokus pada perbaikan jalan dan infrastruktur di kecamatan yang masih belum berjalan dengan baik, khususnya di beberapa jalan poros kecamatan yang menghubungkan sentra-sentra ekonomi.
“Kita harapkan, pembangunan infrastruktur seperti jalan, pendidikan, air bersih dan kesehatan di kecamatan, terutama di daerah kepulauan bisa ditingkatkan, agar menimbulkan peningkatan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Juga diharapkan dapat menggerakan ekonomi di kecamatan-kecamatan,” pungkasnya.
Lihat juga...