Warga di Lamsel Gelar Kenduri Peringati HUT ke-73 RI

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Ratusan warga Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menggelar acara kenduri atau ngariung, sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat kemerdekaan RI.
Nasrullah, Kepala Dusun Sumbersari, menyebut, kenduri atau ngariung kerap dilakukan dalam acara khusus ungkapan syukur, dan kenduri untuk memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan RI baru dilakukan pertama kali di dusunnya. Kenduri sengaja dilakukan di lapangan dusun, dengan alas terpal, tikar serta plastik sebagai tempat duduk.
“Kenduri kemerdekaan menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang digelar oleh masyarakat dusun, tanpa memandang suku, agama, semua berkumpul bersama di lapangan selepas magrib,” terang Nasrullah, Kamis (16/8/2018) malam.
Budi Omon (kiri), salah satu ketua RT dan Nasrullah (kanan), Kepala Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Menurut Nasrullah, setiap keluarga diwajibkan membawa kenduri dengan menu nasi lengkap dengan lauk pauk. Semua makanan yang dibawa oleh masing-masing keluarga, selanjutnya dikumpulkan ke bagian tengah untuk didoakan.
Sebagian besar warga sengaja membawa makanan untuk kenduri sesuai jumlah keluarga, dengan teknik membuat takiran menggunakan wadah daun pisang. Sebagian memanfaatkan wadah dari kotak nasi serta beragam jenis wadah lainnya.
Nasrullah mengatakan, kenduri didahului dengan sambutan sekaligus renungan makna perjalanan kemerdekaan RI. Makna kemerdekaan harus menjadi rasa syukur bersama, tanpa membedakan suku, agama, ras dan antargolongan.
Setelah sambutan singkat sekaligus renungan makna kemerdekaan atas perjuangan pahlawan dan cara positif mengisi kemerdekaan, kenduri dilanjutkan dengan doa bersama.
Doa bersama saat kenduri dilakukan oleh perwakilan dua agama di dusun Sumbersari, yakni Islam dan Katolik. Kenduri yang didoakan oleh pemimpin agama Islam dilakukan oleh Markum dan doa dengan cara Katolik dipimpin oleh Wagimun. Dua cara doa untuk kenduri tersebut dilakukan sebagai bentuk persatuan berbangsa dan bernegara tanpa membedakan agama.
Usai doa, warga diperkenankan menyantap hidangan. Semua jenis makanan yang telah didoakan tersebut boleh diambil oleh setiap warga, sehingga bisa dibawa pulang atau langsung dimakan. Umumnya, warga memilih makan bersama dengan lauk urap, serta sejumlah lauk dengan nasi, meski hanya menggunakan alas daun pisang.
Kenduri kemerdekaan sebagai ungkapan syukur, kata Nasrullah, diikuti oleh 120 kepala keluarga, dengan jumlah jiwa mencapai 500 orang. Kebersamaan terlihat saat warga tanpa memandang usia dan agama, makan bersama di lapangan dusun.
Kebersamaan tersebut menjadi rangkaian peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan RI, sebab sepekan sebelumnya berbagai perlombaan untuk anak-anak juga digelar.
Sejumlah perlombaan yang telah digelar, di antaranya lari kelereng, panjat batang pisang, joged balon dan lainnya. Ada pun perlombaan lain yang masih akan digelar adalah jalan santai dan sepeda hias. Pada puncak peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan RI, Dusun Sumbersari juga akan melakukan upacara di dusun tersebut, diikuti semua warga, pada Jumat (17/8) pagi.
Budi Omon, salah satu ketua RT, mengatakan, kegiatan kenduri kemerdekaan menjadi salah satu upaya mempererat persatuan warga. Terlebih warga Sumbersari cukup beragam, karena terdiri dari suku Lampung, Sunda, Jawa, Serang, Palembang dan beragama Islam dan Katolik. Meski plural, namun solidaritas dan kebersamaan terus dipertahankan, terutama dalam merayakan HUT RI.
Warga yang menikmati kenduri, menjadi simbol kebersamaan. Rasa solidaritas sebagai warga tanpa memandang suku dan agama tersebut, menjadi salah satu bentuk rasa syukur mengisi kemerdekaan.
Lihat juga...