Satgas Pangan Pantau Harga Telur di Langkat
LANGKAT – Satuan Tugas Pangan Kepolisian Resor Langkat, Sumatera Utara (Sumut), memantau harga telur di daerah tersebut. Upayanya dilakukan dengan mengunjungi berbagai pasar tradisonal mau pun peternakan ayam.
Pemantauan tersebut diharapkan, mampu membantu mengantisipasi kenaikan harga telur. “Kita lakukan antisipasi guna mengantisipasi jangan sampai terjadi kenaikan terhadap daging ayam mau pun telur terutama di pasar tradisional dan tempat peternakan,” Kasat Reskrim Polres Langkat AKP Muhammad Firdaus, Rabu (1/8/2018).
Pengecekan dilakukan di peternakan ayam (boiler dan kampung), peternak ayam petelur, serta harga daging ayam di Desa Paya Mabar, Kecamatan Stabat, jumlah ayam petelurnya ada 20.000 ekor, dengan produksi telur mencapai 9.300 butir per hari. “Harga penjualan ke agen Rp1.000 per butir,” tambahnya.
Demikian juga dengan daging ayam boiler, harganya Rp38.000 per kilogram, sedangkan ayam kampung Rp50.000 per kilogram, dan ayam merah Rp 26.000 per ekor. Sementara itu harga telur di agen, yang menjual di pasar tradisional Stabat mencapai Rp1.300 per butir, sedangkan harga satu papan telur Rp35.000. “Dari hasil pantauan dan kunjungan Satuan Tugas Pangan Langkat ini belum ada indikasi terjadinya penimbunan yang dilakukan para pemilik usaha,” ucapnya.
Terjadinya kenaikan harga jual telur ayam dan daging ayam, lebih dikarenakan adanya kenaikan harga pakan ayam. Jagung halus yang sebelumnya dihargai Rp5.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp5.500 per kilogramnya. Termasuk harga jagung kasar, yang sebelumnya dihargai Rp4.000, kini naik menjadi Rp4.500 per kilogramnya. Pelet 551 yang sebelumnya dihargai Rp8.000 kini naik menjadi Rp8.500 per kilogramnya. “Guna mengantisipasi hal itu, kami melakukan penyelidikan terhadap kenaikan harga pakan ayam apa penyebabnya,” pungkasnya. (Ant)