Ragam Rumah Adat Riau di TMII
Editor: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Memasuki Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah (TMII), mata pengunjung akan terpukau pada gapura bercorak replika Garuda Istana Kerajaan Riau Lingga. Paduan warna merah, hijau dan kuning, menghiasi gapura itu, menjadikan suasana adem.
Melangkah ke halaman anjungan, patung gajah, harimau dan beruang sebagai penghuni satwa menyambut pengunjung. Di sudut lain, tampak replika kilang minyak yang mengambarkan sentuhan lingkungan alam.
Anjungan Riau menampilkan satu balai adat dan tiga rumah adat, yang kesemua bangunan didesain Melayu tradisional.
Balai adat ini, bernama Balai Selaras Jatuh Tunggal. Balai adat ini berfungsi sebagai tempat pertemuan tokoh masyarakat atau majelis dalam bermusyawarah atau rapat. Juga digunakan untuk menggelar berbagai upacara adat.

“Balai Selaras Jatuh Tunggal ini bukan tempat tinggal, berfungsi sebagai tempat musyawarah para tokoh. Juga dipakai untuk acara adat. Di Riau, balai adat ini tetap dilestarikan, masih ada,” kata Staf Anjungan Riau TMII, Dini, kepada Cendana News, Selasa (14/8/2018).
Bangunan Balai Selaras Jatuh Tunggal dikelilingi kayu jati. Balai adat ini mempunyai serambi keliling dan lantainya lebih rendah. Ukiran unsur bangunan mengandung perlambang nilai adat dan keislaman.
Disampaikan dia, Balai Selaras Jatuh Tunggal di anjungan ini difungsikan sebagai peraga pameran khazanah budaya 12 kabupaten yang ada di provinsi Riau.
Seperti busana adat, busana pengantin adat lengkap dengan pelaminan bergerai atau peternakan. Yakni, pelaminan bertingkat dengan warna, kuning dan merah. Jumlah gerai menunjukkan derajat atau tingkatan dari pengantin yang disandingkan.
Disamping kanan Balai Adat Selaras Jatuh Tunggal, tampil sebuah Rumah Adat Limas dengan tangga batu setengah melingkar dihiasi dengan ornamen ukiran khas Melayu.

Ini adalah rumah adat kaum bangsawan kerajaan Siak Sri Indrapura dan kerajaan Palalawan. Rumah ini menjadi model Istana Sultan Indagiri, Riau Lingga dan Sultan Palalawan.
Menurutnya, rumah adat Limas ini terus dilestarikan dan hingga kini sebagai tempat tinggal para bangsawan di Siak. “Pada zaman dulu rumah adat Limas ini adalah rumah kerajaan, dan hingga kini dihuni bangsawan,” ujarnya.
Pada halaman Rumah Atap Limas, terdapat buku besar yang terbuat dari batu. Di situ tertulis hasil karya seorang pujangga Melayu “Gurindam Dua Belas” karya raja Ali Haji. Sungguh ini memberikan makna mendalam, yakni Riau dalam perkembangan bahasa dan sastra.
Di rumah adat ini, terdapat loteng yang dahulu kala digunakan untuk anak gadis bertenun selagi dipingit. Loteng ini memiliki sebutan anjungan pengintai.
Tepat di depan Balai Selaras Jatuh Tunggal, berdiri tegak Rumah Adat Pencalang atau Rumah Atap Melayu Lontik. Atau lebih familiar disebut Rumah Adat Lontik.
“Rumah adat Lontik ini beratap runcing melengkung ke atas. Dinding atapnya miring ke luar, dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang,” jelas Dini.
Selain itu, tambah dia, anak tangga rumah adat ini juga selalu beranak tangga lima. Bangunan rumah ini berbahan kayu jati dengan ragam bentuk tiang. Ada segi empat, segi enam, segi tujuh, segi delapan, dan segi sembilan.

Adapun tiang utama atau tiang tuo berdiri di sebelah kiri dan kanan pintu masuk. Tiang utama dinamai tiang seri, berdiri di keempat sudut rumah yang terbuat dari kayu besar dan tidak boleh disambung. Semua ukiran bangunan berlambang adat dan nilai keislaman.
“Rumah Adat Lontik ini, adalah rumah adat Kampar yang intinya perbatasan dari Sumatera Barat (Sumbar) dengan Riau. Maka, atap rumahnya disebut Lontik. Karena rumah ini lentik hampir mirip dengan rumah khas Sumbar,” jelasnya.
Dia menyebutkan, semua bangunan rumah adat diberi hiasan, terutama ukiran. Semakin banyak ukiran pada suatu rumah, semakin tinggi pula status sosial pemiliknya. Ragam hias ukiran kebanyakan berpola tumbuh-tumbuhan dan hewan. Seperti, ukiran bercorak ombak-ombak atau lebah bergantung, lambai-lambai, rebung, limas, semut beriring, itik pulang petang, kalok paku, pucuk rebung, dan sayap layang-layang.
Di puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat ke atas bersilangan. Atapnya berukiran salembayung atau sulobuyung, yang memiliki makna tersendiri.
Seperti ornamen ukiran rebung pada rumah Lontik ini, jelas Dini, menunjukkan bentuk, kalau rumah adat Lontik ini rumah perbatasan antara rumah Sumbar dan Riau.
Bentuk ukiran rumah-rumah adat di anjungan Riau ini adalah khas Melayu dengan paduan warna merah, kuning, dan hijau.
“Merah itu bermakna berani, hijau berbaur pada alam dan kuning adalah bermakna kerajaan yang berkharisma,” ujarnya.
Terkait rumah adat Lontik, sebut dia, ini bukanlah rumah bangsawan tetapi rumah masyarakat biasa yang hingga saat ini terdapat banyak di Riau. Namun menurutnya, karena membangun rumah berbahan kayu jati ini membutuhkan biaya besar, maka hanya orang-orang kaya yang mampu membangun rumah adat ini.
“Rumah adat Lontik sebetulnya bukan rumah bangsawan. Ini rumah rakyat biasa, cuma karena faktor biaya yang besar untuk membangunnya. Ya, memang rumah adat ini agak langka,” tandasnya.
Di sebelah timur anjungan, terdapat sebuah bangunan dengan arsitektur melayu tradisional. bernama Rumah Adat Kajang. Ini menurutnya, rumah adat provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang sekarang telah terpisah dari Provinsi Riau pada 24 September 2002. “Rumah adat Kajang ini tetap sebagai rumah adat kami karena histori sejarah masih ada,” ucapnya.
Rumah-rumah adat di anjungan Riau menjadi tempat pameran benda budaya dan seni tradisional. Rumah Adat ontik digunakan sebagai kantor dan perpustakaan serta ruang pameran ragam ketrampilan tradisional berbahan anyaman. Seperti peralatan menangkap ikan dan kandang ayam.
Rumah adat Kajang memamerkan replika benda yang mewakili kebesaran kerajaan Riau-Lingga. Begitu pula dengan rumah adat Limas memamerkan khazanah budaya peninggalan kerajaan Siak Sri Indrapura dan kerajaan Palalawan.

Tari Zapin, Ranggang Melayu dan Gozal adalah khazanah seni budaya yang ditampilkan sanggar tari Seringgit Diklat Seni Anjungan Riau TMII, setiap hari Kamis dan Jumat, sore.
Dengan kekayaan khazanah budayanya, banyak tamu negara dan tamu resmi pernah mengunjungi anjungan ini. Di antaranya Presiden Republik Islam Pakistan beserta Ibu Begum Zia Ulhaq, Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat, Kepala Staf Angkatan Darat Jepang, Sultan Malaysia, dan artis-artis negara Islam.
Dia menuturkan, Provinsi Riau dengan ibu kota Pekan Baru, terletak di pantai timur Pulau Sumatera. Wilayah ini meliputi 3214 pulau, yang terletak di antara Pulau Sumatera dan Selat Malaka, serta Laut China Selatan.
Penduduknya, yang hanya sekitar dua seperempat juta jiwa menempati daerah yang luas dan subur, menghasilkan minyak bumi yang melimpah. Pertumbuhan perekonomian daerah ini maju pesat.
Anjungan ini juga kerap menjadi wahana edukasi budaya, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Anjungan ini tak pernah sepi pengunjung, terlebih hari Sabtu dan Minggu.
Menurutnya, anjungan ini sebagai show window kebudayaan Riau akan tetap menebarkan virus seni mencintai budaya bangsa kepada masyarakat Indonesia dan wisatawan luar negeri.
“TMII adalah wadah pelestarian dan pengembangan khazanah budaya bangsa, salah satunya kebudayaan Riau lebih dikenal masyarakat luas,” tutupnya.