Posdaya Bangkitkan Kemandirian Wanita di Tengah Keluarga
Editor: Satmoko Budi Santoso
DHARMASRAYA – Denyut ekonomi dan bisnis masyarakat yang berada di Kabupaten Dharmasaraya, Sumatera Barat, yang berlangsung 24 Jam sangat terasa di Pulau Punjung maupun Sungai Dareh yang menjadi pusat kawasan perkantoran kabupaten tersebut.
Penopang utamanya jelas, yakni lokasi ibu kota kabupaten yang terletak di jalan perlintasan Sumatera.
Untuk lebih mempercepat gerak pembangunan, di samping lembaga pemerintahan yang terus melaksanakan beragam program, aktlvitas kemasyarakatan juga perlu lebih dimaksimalkan. Di sinilah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) mengambil peran di samping lembaga kemasyarakatan lainnya.
Posdaya dengan daya geraknya dimotori wanita-wanita tangguh tingkat jorong dan kenagarian punya kepentingan untuk menyejahterakan keluarga. Peran seperti inilah yang terus dipantau dan dibina oleh Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Sumatera Barat kepada seluruh daerah di Minangkabau tersebut.
“Wanita sekarang bukan lagi semata berperan sebagai ibu rumah tangga. Tapi lebih dari itu, wanita juga sebagai penguat ekonomi,” ujar Ketua Umum LKKS Sumatera Barat, Nevi Zuairina, kepada ratusan kader Posdaya yang ada di Kabupaten Dharmasraya, Selasa (21/8/2018).
Menurutnya, sekarang tidak masanya lagi yang bekerja lelaki saja. Seorang istri pun harus berusaha, tentu yang sesuai dengan kodratnya. Khusus bagi wanita yang tidak sempat bekerja di lingkungan pemerintahan, perlu menciptakan usaha apa saja.
Di antaranya menciptakan kebun bergizi di lingkungan tempat tinggal yang ditanami dengan beragam sayuran. Apalagi Dharmasraya memiliki tanah yang sangat subur.
“Kalaulah ibu-ibu tampil sebagai wanita tangguh, percayalah, Allah pasti memberi rezeki. Pandai-pandailah membagi waktu. Niscaya tidak akan ada anak putus sekolah. Sebab ayah dan ibunya selalu aktif mencari rezeki,” jelasnya.
Minimal, tambahnya, kalau tidak mampu menyekolahkan anak melalui pendidikan sekolah, masih ada usaha lain berupa lembaga pendidikan paket A, B dan C. Hal ini ditekankannya, karena masa depan Dharmasraya akan selalu cerah kalau semua orang selalu giat berusaha.
Untuk itu, seluruh anggota Posdaya diharapkan mampu menjadi contoh kemandirian wanita di tengah keluarga. Kalau hal tersebut sudah dilakukan, diharapkan seluruh keluarga yang bermukim di Dharmasraya kuat lahir dan batin dalam arti yang sebenarnya.
Sebagai pembuktian bahwa wanita Dharmasraya itu merupakan wanita tangguh bisa disaksikan melalui Koperasi Wanita Tebing Tinggi binaan Pemerintah Nagari setempat. Melalui koperasi bank sampah yang dibentuk oleh kader Posdaya itu, semua sampah plastik di Dharmasraya dan sekitarnya dikumpulkan di bank sampah, untuk kemudian diolah dan dijadikan beragam pernak-pernik yang bagus.
Hebatnya, pekerjanya banyak yang terdiri dari kaum ibu lanjut usia. Semuanya kelihatan tangguh. Tekun dan serius bekerja mengolah beragam plastik rongsokan.
“Hal seperti itulah yang patut dicontoh bagi Posdaya lainnya yang ada di Sumatera Barat. Perannya benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat,” katanya.
Nevi juga berharap, seluruh Posdaya mengoptimalkan kegiatannya demi mempercepat mengatasi kemiskinan di daerah itu. Hal ini seiring dengan keinginan Pemda setempat yang menyampaikan harapan kepada kader Posdaya yang telah terbentuk untuk menindaklanjuti segala arahan dari LKKS dengan membuat rencana yang strategis.
“Ya jelas kita tentukan, selalu sedia dan siap membina para Posdaya. Karena Posdaya adalah ujung tombak untuk mengentaskan kemiskinan di Sumatera Barat,” tegasnya.
Terkait keseriusan LKKS dalam membina Posdaya, yang sesuai dengan arahan dari Yayasan Damandiri, Nevi mengatakan, sangat penting melakukan pembinaan terhadap Posdaya. Apalagi terbentuk dan adanya pengurus Posdaya itu dari masyarakat setempat. Artinya, Posdaya dikelola masyarakat, dan Posdaya mengabdi untuk masyarakat.
Hal demikian dinilai, pengelolaan Posdaya tidak bisa dilepas begitu saja. Namun perlu untuk dibina dari berbagai sisi, sehingga harapan untuk mengentaskan kemiskinan dapat terwujud.
Ia menyebutkan, berbagai sisi peran Posdaya yang dibina, seperti berkaitan dengan empat pilar, yakni pilar pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Keempat pilar itu, merupakan langkah untuk mengentaskan kemiskinan.
“Banyak bentuk pembinaan yang kita lakukan. Misalnya untuk ekonomi, LKKS memberikan pembinaan terkait pengembangan usaha. Karena memang tidak dapat dipungkiri bahwa kendala dalam menjalankan usaha bagi rakyat kurang mampu, tetap terjadi,” katanya.
Pembinaan yang dilakukan seperti memberikan solusi terkait persoalan yang dihadapi oleh Posdaya dalam membantu masyarakat setempat. Misalnya, persoalan minimnya kesadaran masyarakat soal pendidikan.
Di sini, LKKS memberikan cara kepada Posdaya tentang mensosialisasikan pentingnya pendidikan. Hal ini mengingat peran Posdaya di desa menjadi ujung tombak atau perpanjangan tangan dari pemerintah.
Apalagi LKKS merupakan lembaga nonpemerintah dan bersifat terbuka, independen serta mandiri, yang dibentuk di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota yang giat melakukan koordinasi dalam rangka pengentasan dan pengurangan dampak kemiskinan. Untuk itu, LKKS fokus melakukan pembinaan.