Pemudi Tanah Datar Jadikan Jerami Bernilai Ekonomis

Jerami - Dokumentasi CDN

BATUSANGKAR – Kalau biasanya jerami hanya dibakar oleh petani, maka lain dengan yang dilakukan pemudi dari Tanah Datar, Sumatera Barat. Jerami-jerami diubah menjadi barang-barang bernilai ekonomis.

Adalah pemudi asal Lintau, Novia Wella (24), menjadikan jerami bukan hanya limbah hasil panen. Tetapi menjadi barang bernilai ekonomis, setelah diolah menjadi barang-barang yang memiliki daya guna. “Saya sudah memulai usaha kerajinan berbahan dasar jerami ini semenjak lima tahun belakangan,” katanya, Minggu (26/8/2018).

Beberapa produk kerajinan yang dihasilkan diantaranya, miniatur hewan yang dapat dijadikan sebagai pajangan atau hiasan ruangan. Jerami sengaja dipilih, karena bahannya mudah didapat. Sebagian masyarakat di Lintau maupun Tanah Datar, masih bekerja sebagai petani dan lahan persawahan masih ada cukup luas didaerah tersebut, sehingga sangat mudah untuk mendapatkan jerami.

Jerami juga mudah diolah menjadi bentuk yang diinginkan. Selain itu, sekalipun tidak dalam jumlah yang banyak, paling tidak hal ini bisa mengurangi intensitas pembakaran jerami oleh petani. “Keahlian ini dipelajari secara otodidak, tanpa melalui pelatihan khusus, semua berawal ketika tamat SMA dulu saya belum memiliki kegiatan,” ujarnya.

Untuk memasarkan produk tersebut, dilakukan dengan berjualan di pasar-pasar tradisional, serta sesekali dengan mengikuti pameran. Saat ini, proses pemasaran  sudah mulai memanfaatkan sosial media.

Hingga sekarang Wella menyebut, nilai penjualan masih belum menentu. Selain mengalami kendala pemodalan serta pemasaran, faktor penghambat lainnya adalah, sulit menambah jumlah pekerja. Saat ini terdapat beberapa orang pekerja yang ikut terlibat, diantaranya bertugas untuk mengumpulkan jerami, membuka serta memarut karung goni.

Sekali pun demikian, Wella menyebut, antusias masyarakat terhadap kerajinan tersebut cukup tinggi. Terbukti banyak yang tertarik melihat atau membeli ketika barang tersebut dipamerkan. “Pemasaran melalui sosial media baru dilakukan beberapa waktu belakangan, jadi masih banyak juga masyarakat yang belum tahu,” katanya. (Ant)

Lihat juga...