Nelayan Bali Sukses Budi Daya Kepiting di Hutan Mangrove

Editor: Koko Triarko

BADUNG – Pemanfaatan Mangrove sebagai tempat budi daya kepiting, memang cukup menjanjikan. Seperti yang dilakukan oleh Kelompok Nelayan Wanasari, di Desa Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Buah manis dari menjaga serta melestarikan tanaman Mangrove selama puluhan tahun itu, masyarakat bisa membudidayakan kepiting bakau (Scylla Serrata), dan mereka bisa meraih penghargaan “Silpakara Nugraha”, yang merupakan sebuah penghargaan tentang inovasi di daerah pesisir, dari Gubernur Bali, sebagai juara satu pada tanggal 14 Agustus lalu.
I Made Sumase, ketua kelompok nelayan Wanasari, menjelaskan, awalnya pembentukan kelompok nelayan pembudidaya kepiting bakau ini berangkat dari semakin pesatnya pembangunan. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat akan budi daya kepiting.
I Made Sumase, Ketua Kelompok Nelayan Wanasari, Desa Tuban, Kecamatan Kuta Badung. -Foto: Sultan Anshori.
Dengan cara mengubah pola pikir mereka, untuk tidak terus mencari kepiting secara terus-menerus, tanpa ada solusi lain, termasuk dengan cara budi daya. Selain itu, hal ini juga dijadikan media untuk menyatukan kelompok nelayan yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.
“Kami ingin mem-branding tempat dan kelompok nelayan, yang sebelumnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu. ‘Seka Banjang Seka Uyah Seka Gerombong’, di mana para leluhur mereka terdahulu menangkap ikan besar di laut dengan memasang perangkap Gerombong sebagai pembuat kapur di tengah laut”, kata Sumasa, Senin (20/8/2018).
Sumasa menjelaskan, ‘Uyah’ merupakan leluhur yang membuat garam, sementara ‘Seka’ adalah Seka. Seiring berjalannya waktu dan kemajuan zaman, para penerus nelayan ini memanfaatkan serta merawat alam, salah satunya dengan cara membudidayakan kepiting bakau.
“Sebab itu, kita manfaatkan lahan mangrove yang kita miliki ini, sebagian untuk tempat membudidayakan kepiting itu. Anggota nelayan kami berjumlah 90 orang,” katanya.
Menurut Sumasa, dalam membudidayakan kepiting ini harus melindungi mangrove, karena saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Kebersihan dan kelestarian mangrove harus tetap dijaga.
Saat ini, mangrove yang ada di kawasan Desa Tuban luasnya sudah mencapai ratusan meter, dari yang sebelumnya hanya memiliki ketebalan luasan mangrove sebesar 100 meter dari pinggir pantai Teluk Benoa.
Dampak positif lainnya dari budi daya kepiting, adalah saat ini masyarakat tidak perlu lagi susah payah mencari kepiting di laut, karena semenjak dilakukan budi daya, stok kepiting di tempatnya sudah mencukupi. Bahkan, pihaknya sudah membuka restoran seafood di areal mangrove, dengan tingkat kunjungan rata-rata 150 hingga 300 orang setiap hari.
Salah satu menu utama di restoran ini adalah kepiting bakau.
Setiap hari, pihaknya mampu menjual kepiting jadi di restoran ‘Kampoeng Kepiting’ sebanyak 300 ekor.
Sumasa menegaskan, kepiting yang dijual di restoran yang sudah berjalan sejak 2013 ini, harus kepiting jantan, tidak boleh kepiting betina dan harus memiliki bobot minimal 300 gram. Itu disesuaikan dengan aturan Permen Perikanan nomor 1 tahun 2014 tentang larangan menjual serta mengkonsumsi kepiting.
“Kami melarang kepada masyarakat untuk tidak menjual kepiting di bawah berat 300 gram. Ini bertujuan sebagai setting stock  manajemen, untuk mencukupi kebutuhan kepiting kami ke depan. Dan, mungkin kami bisa mengklaim, bahwa nelayan kami merupakan satu-satunya yang peduli terhadap budi daya kepiting di Bali,” katanya.
Untuk itu, pihaknya berharap, langkah dan terobosan ini bisa ditiru oleh Pemerintah, khususnya Pemprov Bali, untuk juga mengembangkan budi daya kepiting bakau di tempat-tempat lain di pulau Bali. Sehingga, ke depan bisa menjadi alternatif baru bagi dunia pariwisata di Bali.
Sementara itu, membudidayakan kepiting bakau ini perlu penanganan yang serius. Dibutuhkan kemampuan, agar proses budi daya berjalan dengan baik.
Putu Juliarta, salah seorang pembudidaya kepiting bakau dari kelompok Nelayan Wanasari, menjelaskan, cara pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan tempat atau kolam, yang nantinya sebagai tempat untuk budi daya.
Selanjutnya, memilih kepiting yang mau dijadikan indukan. Dalam proses pemilihan indukan kepiting, harus diperhatikan kualitasnya, kepiting betina tersebut harus bagus dan tidak memiliki kecacatan tertentu.
“Itu dilakukan, agar kualitas kepiting yang dihasilkan semuanya bagus,” kata Putu Juliarta, kepada Cendana News.
Langkah selanjutnya adalah melakukan sterilisasi air selama dua hari, sebelum kepiting indukan dimasukkan ke dalam kolam yang sudah disediakan. Dalam proses pengindukan, harus tetap menjaga sirkulasi air. Setiap selesai pemberian pakan, air harus cepat diganti, ini bertujuan untuk tetap menjaga kesehatan selama proses pengindukan dari kepiting itu sendiri.
Dalam proses pengindukan, dibutuhkan waktu paling cepat tiga bulan hingga pecah telur kepiting. Hasil dalam sekali pengindukan biasanya sebanyak 1,5 juta larva kepiting bakau.
Sekedar diketahui, Kelompok Nelayan Wanasari berada di Desa Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, tepatnya di dekat pintu masuk tol Bali Bandara (jika dari arah Bandara Ngurah Rai Bali).
Lihat juga...