Mudahkan Layanan, Pelabuhan Bakauheni Dilengkapi Fasilitas Tiket Non-Tunai

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Fasilitas pendukung program pembayaran nontunai (cashless) mulai dipasang di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.

Wirecard, salah satu perusahaan penyedia jasa pembayaran elektronik bahkan sudah mengutus petugas untuk melakukan pemasangan alat Eletronic Data Capture (EDC) di loket pembelian tiket pejalan kaki dan kendaraan motor serta mobil.

Nur Arofik, teknisi dari Wirecard, pihak ketiga yang bekerja sama dengan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Bakauheni menyebut, tahap awal dipasang sebanyak 11 EDC di Pelabuhan Bakauheni.

Fasilitas EDC yang dipasang di loket pembelian tiket pejalan kaki, diakui Nur Arofik, menyediakan layanan dan infrastruktur pembayaran. Semua peralatan tersebut terintegrasi dengan Himpunan Bank Milik Negara (HiMBARA) yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN.

Layanan pembayaran nontunai dengan uang elektronik yang bisa digunakan dengan mekanisme gesek. Fasilitas tersebut dipersiapkan oleh perusahaan Wirecard sebagai penyedia layanan dan infrastruktur pembayaran yang bekerja sama dengan ASDP Bakauheni.

Anton Murdianto, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Pemasangan mesin EDC sekaligus memberikan penjelasan bagaimana cara penggunaan bagi petugas loket tiket. Selain itu akan kami lakukan kunjungan rutin untuk pemeriksaan oleh teknisi untuk pengecekan serta perbaikan,” terang Nur Arofik, teknisi dari Wirecard saat ditemui Cendana News, di sela-sela pemasangan alat EDC di loket pembelian tiket pejalan kaki Pelabuhan Bakauheni, Selasa (14/8/2018).

Nur Arofik menyebut, pada tahap awal Wirecard menyediakan 11 EDC yang langsung dipasang oleh teknisi Wirecard dibantu teknisi dari PT ASDP cabang Bakauheni. Sebanyak 11 mesin EDC di antaranya di loket penumpang sebanyak 4 unit, di toll gate loket kendaraan roda dua atau motor sebanyak 1 unit, kendaraan mobil sebanyak 3 unit serta di loket dermaga eksekutif atau dermaga VII sebanyak 3 unit mesin EDC.

Selain 11 unit mesin EDC, untuk memperlancar pembayaran tiket penyeberangan secara nontunai, Wirecard bahkan sudah menyediakan 13 unit mesin EDC cadangan. Mesin EDC cadangan tersebut akan disediakan untuk loket penumpang sebanyak 6 unit, loket motor 1 unit, loket mobil 3 unit dan sebanyak 3 unit untuk dermaga eksekutif.

Pada tahap pemasangan tersebut, Nur Arofik juga memastikan semua petugas akan dilatih cara mengoperasikan alat EDC untuk pembayaran nontunai.

Kridiantoro, salah satu teknisi dari PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni, menyebut, pemasangan akan terkoneksi dengan sistem pembayaran tiket. Meski demikian, metode transaksi dengan uang tunai masih akan diterapkan sebelum metode transaksi cashless akan diberlakukan diawali dengan sosialisasi sekaligus pelaksanaan penggunaan.

Sesuai jadwal, PT ASDP Cabang Bakauheni disebutnya akan melakukan penerapan pembayaran tiket feri dengan uang elektronik yang berlaku di Pelabuhan Bakauheni- Merak mulai Rabu (15/8) berbarengan dengan lintasan Pelabuhan Ketapang- Gilimanuk.

“Sosialisasi pembayaran nontunai untuk membeli tiket sudah dipasang di sejumlah titik agar pengguna jasa bisa mempersiapkan uang elektronik,” terang Krisbiantoro.

Sistem pembayaran tiket kapal dengan metode cashless (nontunai) menurut General PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, Anton Murdianto, terus akan disempurnakan.

Secara teknis Anton Murdianto, menyebut, penggunaan uang elektronik bisa digunakan pengguna jasa penyeberangan mulai dari penumpang pejalan kaki serta kendaraan. Bagi penumpang pejalan kaki yang sudah ada alat pembayaran nontunai bisa membayar pada EDC dan akan dipandu oleh petugas loket pembelian tiket.

Isi ulang uang elektronik, disebutnya, bisa dilakukan di sejumlah bank dan lokasi penambahan saldo di gerai toko waralaba penyedia isi ulang saldo uang elektronik yang disediakan di lobi pembelian tiket ASDP.

Sesuai dengan baner sosialisasi yang dipasang di sejumlah titik, uang elektronik uang bisa digunakan di antaranya Brizzi dari BRI, Tap Cash dari BNI, E-Money dari Bank Mandiri serta BLink dari BTN.

Sejumlah penumpang pejalan kaki menunggu naik ke kapal dengan sistem pembelian tiket menggunakan uang tunai [Foto: Henk Widi]
Pada tahap awal metode pembayaran dengan uang elektronik disediakan fasilitas EDC untuk pengguna jasa pejalan kaki, kendaraan roda dua, kendaraan roda empat pribadi.

“Program ini sekaligus mendukung penyelenggaraan tiket angkutan penyeberangan secara elektronik dan gerakan nasional nontunai,” beber Anton Murdianto.

Anton Murdianto menegaskan, metode pembayaran dengan cashless di pelabuhan memudahkan pengguna jasa. Selain itu beberapa stake holder terkait di antaranya operator pelayaran, Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), perusahaan asuransi dan ASDP, bisa terbantu dengan program tersebut.

Jhoni, salah satu penyedia jasa ekspedisi dengan tugas menyeberangkan kendaraan milik rekanan mengaku, mendukung penerapan pembayaran nontunai.

Ia menyebut, sejumlah penyedia jasa ekspedisi yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Lampung Selatan dan organisasi buruh lain juga telah mendapatkan sosialisasi. Melalui penerapan uang elektronik ia memastikan sistem pembayaran akan lebih mudah.

Perusahaan jasa ekspedisi akan lebih mudah melakukan pengawasan terkait uang jasa penyeberangan. Sebab selama ini uang yang digunakan menggunakan uang tunai. Penggunaan uang nontunai, diakui Joni, harus didukung dengan sarana penyedia isi ulang yang memadai di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan toko waralaba penyedia fasilitas uang nontunai.

Lihat juga...