Lobo Keda, Ritual Adat Masyarakat Nggela Ende

Editor: Mahadeva WS

ENDE – Ada yang berbeda di perkampungan adat Nggela, Desa Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Minggu (19/8/2018). Ribuan orang dari berbagai daerah khususnya mereka yang merupakan keturunan Nggela di berbagai pelosok negeri, hadir berbaur dengan warga dari berbagai wilayah di Flores, termasuk wisatawan lokal dan mancanegara.

Sejak pagi, saat melewati kantor Desa Nggela, jalan masuk ke kampung adat Nggela ditutup. Sebuah palang kayu dari bambu dan rumbai daun kelapa dipergunakan sebagai pagar penutup. Semua kendaraan bermotor hanya boleh sampai di tempat tersebut.

Untuk bisa masuk ke Desa Nggela, semua orang harus berjalan kaki menuju perkampungan adat, tempat rumah-rumah adat berdiri kokoh. Semua orang yang hadir wajib mengenakan kain tenun ikat, sarung tradisional masyarakat Flores, yang ditenun dengan tangan menggunakan peralatan tradisional.

Motif tenun ikat Nggela terlihat mendominasi, namun banyak juga motif tenun ikat yang dikenakan berasal dari wilayah lainnya di Kabupaten Ende, maupun motif tenun ikat dari Sikka. “Dalam setiap ritual adat semua orang yang hadir wajib mengenakan kain tenun ketika memasuki perkampungan tempat dilaksanakan ritual adat,” sebut Honing Sani, putra asli Nggela saat berbincang Cendana News, Minggu (19/8/2018).

Bagi tamu dari luar daerah, dan wisatawan, biasanya sudah disampaikan terlebih dahulu peraturan tersebut. Dan terkadang, panitia harus menyiapkan  kain untuk wisatawan, termasuk juga awak media yang akan meliput kegiatan ritual adat.

Kampung adat Nggela adalah sebuah pusat kampung, yang ditengahnya terdapat sebuah tempat pemujaan yang dinamakan Kanga. Di bagian depan terdapat rumah adat atau Keda. Di sekelilingnya juga terdapat rumah-rumah upacara, atau Sa’o Nggua. Semua rumah di desa tersebut, berbentuk rumah panggung, berbahan kayu dan atap berbentuk kerucut berbahan ilalang.

Aloysius Sika (71) pemangku adat atau Mosalaki Mboto Au Nggela,kampung adat Nggela kecamatan Wolojita kabupaten Ende Flores NTT. Foto : Ebed de Rosary.

Sejak pagi semua masyarakat mulai memadati pusat kampung untuk menyaksikan serangkaian upacara adat atau ritual Lobo Keda. Prosesi tersebut adalah ritual ungkapan syukur atas dibangunnya Keda atau rumah adat, yang merupakan simbol keberdaan Mosalaki. “Lobo Keda hakikatnya merupakan pesta syukuran dibangunnya Keda. Setelah kurang lebih 85 tahun baru ada lagi pembangunan ini. Saat ritual sebelumnya pun saya juga belum lahir,” sebut Aloysius Sika (71) pemangku adat atau Mosalaki Mboto Au Nggela.

Tanpa Keda (rumah adat), segala ritual adat yang dilaksanakan di kampung Nggela tidak akan mempunyai nama. Hal itu dikarenakan, musyawarah adat dilaksanakan oleh para Mosalaki di Keda. Dalam setahun minmal dua kali digelar seremonial adat, sehingga butuh waktu dan tempat untuk bermusyawarah. Walaupun bulan atau kalender adatnya ada, namun butuh penglihatan yang jernih, termasuk soal cuaca untuk memulai musim tanam sebagai awal ritual adat.

Musim tanam diawali dengan Ka Uwi, dilanjutkan ritual adat Loa Telo, hingga ritual terakhir Joka Ju. “Saya juga tidak sempat ikut saat pembangunan Keda ini sebab dibangun sekitar 85 sampai 90 tahun lalu. Rumah adat atau Keda merupakan kekuatan dan tanpa Keda ini semua kebersamaan dan gotong royong akan hilang,” tuturnya.

Ritual adat masyarakat atau komunitas adat di pulau Flores dan Lembata masih menjaga prosesi dan ritual adat warisan leluhur. Meski mulai ada yang luntur, akibat berbagai hal, masih banyak warga yang berusaha mempertahankannya. “Pendidikan mengenai adat budaya tidak ditanamkan kepada generasi muda lewat mata pelajaran yang memuat kearifan lokal sehingga bisa diajarkan sejak dini kepada anak-anak generasi masa kini,” sebut Philipus Kami, ketua Aliansi Masyarakat Adat Nisantara (AMAN) Nusa Bunga.

Ketua lembaga adat yang mencakup pulau Flores dan Lembata ini menyebut, stuktur lembaga adat masih ada, dan menjalankan sesuai dengan perannya masing-masing. Makna ritual adat pada syukuran pembanguna rumah adat atau Lobo Keda adalah, menyampaikan ucapan terimah kasih pada Tuhan dan para leluhur, atas restu, sehingga dalam pembangunan rumah adat bisa berjalan lancar dan sukses. “Ritual ini juga memperlihatkan pewaris bahwa rumah adat penting sekali, karena ada nilai hubungan antara manusia dan Tuhan, manusia dan manusia sekaligus manusia dengan alam,” ungkapnya.

Selain itu, ritual ini juga menunjukan hubungan antara Mosalaki dan Mosalaki serta Mosalaki dan Anakalo Wai Walu atau pemangku adat dan rakyatnya. Juga hubungan pemberi tanah dan penggarap tanah, sehingga dikenal dengan istila Are Wati Moke Boti Manu Eko atau upeti yang diberikan oleh penggarap kepada pemangku adat dalam kaitan dengan pembangunan rumah adat.

Lihat juga...