Iran: Trump dan Sekutunya di Timur Tengah Terkucil
ANKARA — Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menyebut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan sekutunya di Timur Tengah menjadi terkucil oleh kebijakan permusuhan mereka terhadap Teheran.
“Hari ini, Trump, Bin Salman dan Netanyahu menjadi lambang ketakpercayaan di dunia,” kata Zarif sebagaimana dikutip televisi itu, dengan merujuk pada putera mahkota Saudi dan perdana menteri Israel, Senin (6/8/2018).
Dia menambhkan, kebijakan menindas dan langkah kasar mereka membuat mereka terkucil. Dunia menjauhkan diri dari kebijakan jahat mereka terhadap Iran.
Babak pertama sanksi AS terhadap Iran, yang dicabut berdasarkan atas perjanjian internasional pada 2015 terkait program nuklir, akan diberlakukan kembali pada Selasa.
Sanksi tersebut mencakup penjualan mata uang dolar, perdagangannya dalam emas dan logam berharga dan sektor otomotif.
Berdasarkan atas perjanjian Teheran dengan kekuatan dunia, sebagian besar sanksi internasional diberlakukan atas Iran dicabut tahun 2016 sebagai ganti atas langkah Teheran mengekang program nuklirnya.
Dengan menyatakan perjanjian itu telah gagal menyelesaikan program nuklir balistik Iran, aktivitas nuklirnya melampaui tahun 2025 dan perannya di perang-perang regional, Trump menarik dari perjanjian itu pada Mei dalam suatu langkah yang Israel -yang Iran tolak untuk mengakui- dan Arab Saudi menyambut baik.
Israel mendukung pemberlakuan kembali sanksi-sanksi AS itu. Sanksi-sanksi itu akan memaksa pihak Iran memutuskan antara memenuhi tuntutan-tuntutan AS atau mengambil risiko rezim yang berkuasa runtuh dan jatuh.
“Opsi pertama baik, kedua luar biasa,” kata Menteri Intelijen Israel, Israel Katz di Twitter.
Iran juga berselisih selama bertahun-tahun dengan Arab saudi, bertempur lewat perang perwalian di Timur Tengah dan telah mempengaruhi konflik-konflik di Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman.
“Tiga negara tersebut ingin menciptakan ketegangan psikologi terhadap Iran. Kami akan mengatasi periode kesulitan ini,” kata Zarif.
Kendati usaha-usaha oleh Rusia, China dan Eropa untuk menolong perjanjian tersebut tetap berlaku, pemerintah Trump mendesak negara-negara untuk memutus semua impor minyak Iran sejak November, ketika AS memberlakukan kembali sanksi-sanksi atas minyak dan industri perkapalan Iran.
Ketakutan terhadap sanksi dan kesulitan ekonomi mendorong unjuk rasa sporadis di beberapa kota di Iran dalam beberapa hari belakangan. (Ant)