Unpad Temukan Sampah di Perairan Laut Sawu
KUPANG — Tim Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Padjajaran Bandung dan para penyelam yang dikenal dengan “Diver Clean Action (DCA)” menemukan berbagai jenis sampah di perairan Laut Sawu.
Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Ikram Sagadji mengatakan bahwa kedatangan para peneliti yang juga dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta tim dari BKKPN itu didampingi Ketua Tim Peneliti FPK Unpad Noir P Purba.
Dijelaskan, keberadaan sampah di Laut Sawu sangat disayangkan karena kawasan itu merupakan salah satu perairan penting yang menyongkong potensi sumber daya ikan di wilayah penggelolaan perikanan (WWP) itu.
“Sampah laut adalah salah satu pencemar di lautan yang berbahaya yang nantinya kelak dapat menurunkan kesehatan laut, dimana di dalam laut itu terdapat berbagai jenis ikan yang hidup,” katanya kepada wartawan di Kupang, Rabu (4/7/2018).
Apalagi dalam penelitian yang dilakukan oleh sejumlah peneliti sebelumnya dari Australia dikatakan bahwa laut sawu menjadi migrasi atau tempat peristirahatan bagi berbagai jenis ikan salah seperti pari manta, bahkan ikan paus yang melakukan perjalanan dari daerah lain.
Bahkan di daerah itu lanjut Ikram ada enam jenis penyu yang menjadi kawasan itu sebagai rumah atau tempat berkembang biak.
“Bahkan sejumkah terumbu karang kawasan itu juga menjadi tempat yang bagus bagi ikan paus yang bermigrasi. Dan jika salah satu terumbu karang rusak maka akan sangat mempengaruhi migrasi ikan paus,” tambahnya.
Para peneliti menemukan banyak sampah di daerah itu, yang lebih herannya lagi sampah-sampah itu berasal dari sungai-sungai dan lebih parah lagi dibuang oleh wisawatan yang melintasi laut tersebut.
Lebih lanjut tambah Ikram penelitian itu dilakukan ditemani oleh BKKPN yang menjadi pengelolah dalam TNP Laut Sawu itu dilakukan diperairan seluas 3,45 hektare.
Sementara itu ketua Tim Peneliti dari Unpad Noir P Purba mengatakan letak perairan laut sawu sebagai migrasi berbagai jenis ikan sangat rentan terhadap sampah.
“Sebagian besar tidak dapat membedakan mana sampah dan yang bukan sampah sehingga dapat membahayakan kehidupan dari ikan-ikan itu,” ucapnya.
Ia mengatakan bahwa pihaknya sengaja melakukan pnelitian tersebut karena memang tingginya keanekaragaman hayati dari sisi biota, ekosistem, dan kesuburan perairan.
“Sebab seperti yang diketahui bahwa sampah laut dapat mempengaruhi aspek ekologi dan ekonomi masyarakat,” katanya. [Ant]