KUPANG – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menetapkan kabupaten Ngada, NTT sebagai pusat unggulan untuk program 1.000 desa bambu sebagai suatu platform dalam mengembangkan dan memperkuat pemanfaatan bambu di Indonesia, melalui industri bambu berbasis masyarakat.
“Program pemanfaatan bambu berbasis masyarakat ini dibangun dengan mekanisme People Public Private Partnership (4P) yang bergerak dari sektor hulu sampai hilir, mulai dari pengelolaan hutan bambu yang lestari dan pemanfaatan bambu sebagai bahan baku industri,” kata Koordinator Proyek Program 1000 desa bambu Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, Desy Ekawati, di Kupang, Senin (16/7/2018).
Ia menjelaskan, 1000 Desa Bambu di Indonesia merupakan sebuah program jangka panjang yang sudah dimulai dari 2015 dan akan berakhir pada 2040. Sampai dengan lima tahun terakhir, sejak adanya program tersebut sudah ada kurang lebih 40 Desa Bambu di Indonesia.
Sedangkan, di kabupaten Ngada sudah ada 10 Desa Bambu yang dijadikan sebagai pusat unggulan dan percontohan untuk daerah lain. Sepuluh desa itu adalah Rotogesa, Mataloko, Dokka, Dadawea, Were 1 dan Were 2, Waieia, Radbata, Were 4 serta Wogo. Semua desa itu terdapat di kecamatan Golewa, kabupaten Ngada.
Ia mengemukakan, pengolahan hutan bambu lestari berbasis masyarakat di Kabupaten Ngada, sebenarnya sudah berjalan pada beberapa tahun terakhir ini.
Model pengembangan bambu dengan berbasis masyarakat dalam mendukung industri bambu di Indonesia diinisiasi Yayasan Bambu Lestari (YBL), bekerja sama dengan KLHK dan ITTO Bamboo Project dengan dukungan masyarakat setempat.
Desy menyatakan, berkat dipilihnya Ngada menjadi pusat unggulan untuk program 1000 Desa Bambu, saat ini pemerintah membangun Coomunity Learning Center, Sekolah Lapangan Bambu dan Sekolah Musik Bambu di Desa Wogo, Kecamatan Golewa. Pembangunan fisik untuk membangun sekolah dimulai awal 2018.
Pemerintah juga membangun pusat pengawetan bambu dengan proses belajar sekolah lapangan sejak 2016, dilaksanakan di lokasi kebun bambu masing-masing kelompok tani.
“Kami mendapat dukungan dana untuk fisik bangunan sekolah lapangan pada 2018, dan diprogramkan sebagai pusat pelatihan,” kata Desy. (Ant)