Mantan Bintang Kriket Unggul di Pemilu Pakistan
ISLAMABAD – Mantan bintang kriket Pakistan yang menjadi politisi, Imran Khan, unggul dalam penghitungan sementara pemilihan umum di negara tersebut. Diperkirakan Imran Khan akan memenangi pemilu tersebut.
Sementara, rival utama Imran Khan, partai Liga Muslim Pakistan-Nawaz (PLM-N) yang dipimpin oleh mantan perdana menteri Nawaz Sharif, menolak apa pun hasil pemilu tersebut, PLM-N menuding ada kecurangan dalam pelaksanaan pemilu Pakistan.
Partai yang di dukung Imran Khan, Pakistan Tahreek-e-Insaf (PTI), mengaku yakin akan memenangi pemilu. Namun kemenangan tersebut tidak diikuti keberhasilan merebut kursi mayoritas penuh di lembaga Parlemen Dewan Nasional. Hasil resmi akan diumumkan Kamis (26/7/2018). Data sementara yang dimunculkan empat stasiun televisi lokal, menempatkan PTI pada posisi pertama. PTI diperkirakan menang 107-120, dari total 272 kursi yang diperebutkan. PLM-N diperkirakan akan mendapatkan 42 sampai 69 kursi.
Sementara itu, kubu partai PML-N, Shehbaz Sharif yang merupakan saudara kandung mantan perdana menteri Nawaz menyatakan, menolak hasil perundingan. Hal itu dilakukan setelah menerima laporan adanya tentara yang ditugaskan di tempat pemungutan suara, memaksa para saksi untuk keluar saat penghitungan suara dimulai. “Ini jelas merupakan kecurangan. Kami sepenuhnya menolak hasil pemilu,” kata Dia.
Pemilu pada Rabu (25/7/2018), akan menjadi proses peralihan kekuasaan sipil yang kedua di Pakistan setelah 71 tahun negara tersebut berdiri. Pemilu tahun ini, juga penuh dengan kontroversi. Angkatan bersenjata Pakistan dituding telah membantu Khan memenangi pemungutan suara, setelah faksi yang sering melakukan kudeta mengalami pecah kongsi dengan Nawaz.
Nawaz kini harus mendekam dalam penjara karena kasus korupsi. Dan tercatat, sekira 371.000 tentara ditugaskan untuk menjaga bilik-bilik pemungutan suara di berbagai wilayah. Jumlah tersebut naik lima kali lipat dibanding pengamanan pemilu sebelumnya yang berlangsung di 2013 lalu.
Akan tetapi, ratusan ribu tentara tersebut gagal menghentikan aksi bom bunuh diri yang menewaskan 31 orang di dekat tempat pemungutan suara di Quetta, ibu kota Provinsi Baluchistan. Kelompok bersenjata ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan bom tersebut.
Sementara itu, kelompok terbesar ketiga, Partai Rakyat Pakistan (PPP), juga menyampaikan, saksi mereka diusir di sejumlah tempat pemungutan suara saat penghitungan mulai dilakukan. “Ini adalah ancaman besar. Pemilu ini bisa jadi tidak sah dan kami tidak menginginkannya,” kata senator PPP, Sherry Rahman.
Sejumlah partai kecil lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Siapa pun yang pada akhirnya memerintah Pakistan, akan menghadapi tantangan besar. Mulai dari upaya memulihkan perekonomian yang berada di ambang krisis, hingga memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat.
Sebagai tokoh yang mencitrakan diri antikorupsi, Imran Khan menjanjikan Pakistan sebagai negara sejahtera Islam. Dia mengklaim akan memerangi elit politik buas yang membajak pembangunan di negara berpenduduk sekitar 208 juta jiwa tersebut. “Ini adalah pemilu paling penting dalam sejarah Pakistan. Saya meminta semua orang untuk menggunakan hak pilihnya pada hari ini,” kata Khan di Islamabad.
Khan sendiri membantah dengan keras tudingan bahwa dirinya mendapat bantuan dari militer, sebuah faksi yang berkuasa di Pakistan selama puluhan tahun dan masih memegang otoritas penuh atas persoalan politik luar negeri dan keamanan. Pihak angkatan bersenjata juga membantah telah mencampuri pemilu.
Tercatat, PTI sedikit memimpin di atas PML-N dalam berbagai jajak pendapat yang digelar baru-baru ini. Tipisnya kemenangan yang diraih TPI diperkirakan akan membuat mereka harus membentuk koalisi pemerintahan. Hal tersebut diperkirakan juga akan mempersulit pemerintahan baru menjalankan agenda kebijakan. (Ant)